Blue Wings - Working In Background

"Sambas"

Powered By Blogger

GOOGLE FEED BURNER

Enter your email address:

Delivered by FeedBurner

BERDIRI DI UJUNG NEGERI

PERBATASAN INDONESIA-MALAYSIA, TEMAJUK, SAMBAS.

TUGU GARUDA PERBATASAN

TEMAJUK, SAMBAS.

TANJUNG DATOE INDONESIA

INDAHNYA INDONESIA KU, TEMAJUK, SAMBAS.

PERBATASAN INDONESIA-MALAYSIA

BERDIRI DI BATAS NEGERI, TEMAJUK, SAMBAS.

TUGU KETUPAT BERDARAH

SAKSI BISU PERTUMPAHAN DARAH 1999, JAWAI, SAMBAS

Showing posts with label COMMUNICATION. Show all posts
Showing posts with label COMMUNICATION. Show all posts

Saturday, 19 November 2016

KEDUDUKAN EKSTRAKURIKULER DALAM KURIKULUM KTSP


Upaya meningkatkan mutu pendidikan Indonesia, pemerintah terus berupaya melakukan berbagai reformasi dalam bidang pendidikan, diantaranya dengan diluncurkanya peraturan Mendiknas No. 22 tentang standar isi untuk satuan pendidikan dasar dan menengah serta peraturan Mendiknas No. 23 tentang standar kompetensi kelulusan untuk satuan pendidikan dasar dan menengah untuk mengatur pelaksanaan peraturan tersebut pemerintah mengeluarkan pula peraturan Mendiknas No. 24 tahun 2006. Ketiga peraturan diatas memuat beberapa hal penting, diantaranya adalah bahwa satuan pendidikan dasar dan menengah mengembangkan dan menetapkan kurikulum tingkat satuan pendidikan dasar dan menengah yang kemudian dipopulerkan dengan istilah KTSP.
Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) struktur kurikulum yang dikembangkan mencakup tiga komponen yaitu: (1) mata pelajaran; (2) muatan local; (3) pengembngan diri. Komponen pengembangan diri merupakan komponen yang relatif baru dan berlaku untuk dikembangkan pada semua jenjang pendidikan. (Rusman, 2009: 413). Baik pada pendidikan umum, pendidikan kejuruan, maupun pendidikan khusus, meskipun demikian, pengembangan diri bukan merupakan mata pelajaran yang harus diasuh oleh guru, tetapi bisa juga difaslitasi oleh konselor atau tanaga pendidikan lain yang dapat dilakukan dalam bentuk kegiatan ekstrakurikuler. E. Mulyasa, 2007: 283).
Mengetahui  begitu pentingnya  tujuan  PAI  yang  harus  dicapai, maka jika guru agama hanya mengandalkan pada kegiatan proses belajar mengajar saja tidak sempurna, tujuan pendidikan agama itu setelah dipelajari  dan  dipahami maka  perlu dan diamalkan dalam segala kehidupan. Disinilah fungsi dari kegiatan ekstrakurikuler pendidikan agama Islam, yang bertujuan untuk memberikan kesempatan pada siswa- siswi untuk memperoleh pengalaman dalam menjalankan apa-apa yang diperintahkan oleh agama Islam.


Friday, 18 November 2016

ASPEK MEDIA DALAM KOMUNIKASI



Komunikasi berlangsung melalui media yang sifatnya abstrak universal dan media sifatnya konkret teknis. Media yang abstrak adalah bahasa. Bahasa berfungsi sebagai pembawa pikiran atau perasaan seseorang kepada orang lain. Dengan bahasa, seseorang akan memahami pikiran atau perasaan orang lain. Bahasa dalam arti sempit adalah bahas verbal, dan dalam arti luas adalah bahasa nonverbal, termasuk isyarat dan tingkah laku.
Sikap yang diekspresikan melalui bahasa belum tentu merupakan ungkapan sikap sebenarnya. Ini bisa dipelajari dalam dunia politik. Ketika seorang mediator tampil menengahi perselisihan, para pihak yang bertikai menyatakan setuju tetapi ternyata perselisihan masih terus berlanjut. Itu disebabkan apa yang mereka maksud dengan setuju adalah setuju untuk tidak setuju. Yang mengherankan bahasa sebagai media komunikasi adalah karena bahasa mengandung pengertian konotatif selain denotatif. Pada umumnya, orang berkomunikasi dengan menggunakan kata-kata yang tidak menimbulkan konotasi salah atau menimbulkan interpretasi lain. Tetapi dalam dunia diplomasi, kadang-kadang seorang diplomat dengan sengaja menggunakan kata-kata konotatif untuk menyembunyikan tujuan yang hendak dicapainya atau agar lawan bicaranya menjadi bingung dengan apa yang sebenarnya dimaksudkan. Padahal, sang diplomat ini menunjukkan sikap tertentu dan pasti.

Media komunikasi yang kedua bersifat teknis dan berfungsi sebagai penerus atau pelipatganda pesan yang telah di informasikan dengan bahasa tersebut. Digunakan media ini, karena sasaran berada dalam jarak yang jauh atau banyak jumlahnya. Di pakailah surat, telepon, telegram, teleks, poster, pamflet, leaflet, brosur, surat kabar, majalah, radio, televisi, film, dan sebagainya. Tetapi dalam keserbanekaan media komunikasi, seorang komunikator harus pandai memilih media mana yang paling efektif untuk menyampaikan pesan. Tidak semua media dapat dipergunakan secara efektif untuk semua sasaran dan semua pesan. Lebih-lebih di penghujung abad ke-21 sekarang teknologi sedemikian canggih dengan adanya teleconferencing network, electronic messanging system, computer bulletin boards, dan interactive cabel television.

KOMUNIKASI BERITA GLOBAL




Komunikasi berita global merupakan hal yang relatif baru. Alat pelontar berita atau sistem berita merembes ke seluruh dunia dan berkembang sedemikian maju terutama sejak berakhirnya Perang Dunia II, bersamaan dengan munculnya masyarakat modern yang bersifat technotronic (masyarakat yang bergantung pada teknologi elektronik). Sebagai contoh kita mempelajari peristiwa-peristiwa penting Perang Dunia II dalam beberapa jam atau beberapa hari setelah peristiwa itu berlangsung. Kemudian tiga dekade setelah itu, radio atau surat kabar, peristiwa Perang Vietnam dapat dilihat kembali lewat layar televisi berwarna pada saat makan malam. Sebenarnya persepsi masyarakat tentang perang diwarnai cara para wartawan melaporkan peristiwa tersebut sudah lama terbentuk, tetapi kisah perang yang di siarkan kembali melalui televisi berwarna tetap memiliki dampak yang sangat kuat terhadap sikap masyarakat.
Pada zaman modern, terutama sejak berakhirnya Perang Dunia II pada tahun 1945, jaringan komunikasi yang rumit telah mengitari planet. Jaringan ini secara luas biasa telah memperluas kemampuan berita dan interaksi politik pada saat kebutuhan informasi menjadi sesuatu yang sangat utama. Pertumbuhan yang sangat cepat ini, yang oleh Colin Cherry disebut “ledakan dalam komunikasi massa,” telah meluas secara berarti, terutama di dunia jurnalistik, dalam menyalurkan berita dan informasi ke seluruh penjuru dunia. Pertumbuhan ini kemudian memunculkan dampak budaya dari peredaran film, telenovela, siaran televisi dari negara Barat dan dari lembaga-lembaga komunikasi internasional; agen berita; jaringan pemberitaan surat kabar dan majalah internasional, serta pemberitaan lainnya. Fenomena ini selanjutnya dikenal dengan sebutan “imperialisme budaya”.
Kemampuan dunia untuk berkomunikasi secara efektif di seluruh pelosok pun telah berkembang secara lu biasa. Surat kabar dan majalah internasional, semakin luas membangun jaringan komunikasi pemasaran. Sebagaimana dilukiskan oleh Cherry bahwa ledakan komunikasi ini memiliki tiga aspek:
1.      Secara geografis, daerah-daerah yang luas dari belahan bumi Selatan (Afrika, Asia Selatan, Amerika Latin) telah terseret ke dalam jaringan komunikasi di belahan Bumi Utara;
2.      Jumlah lalu lintas berita dan pesan yang dibawa dalam sistem telah berlipat secara geografis; dan

3.      Kerumitan teknis dari perangkat keras yang baru maupun keterampilan serta spesialisasi untuk merawat dan mengoperasikan jaringan tersebut telah tumbuh semakin canggih.

Wednesday, 16 November 2016

TEORI KOMUNIKASI ORGANISASI


1.      Teori Organisasi Klasik
Konsep tentang organisasi telah berkembang mulai 1880-an dan dikenal sebagai teori klasik (classical theory). Dampak teori ini terhadap organisasi masih sangat besar. Sebagai contoh organissi yg didasarkan birokrasi dan banyak bagian dari teori klasik Menurut teori organisasi klasik, rasionalitas, efisiensi, dan keuntungan ekonomis merupakan tujuan organisasi. Teori ini juga menyatakan bahwa manusia diasumsikan bertindak rasional sehingga secara rasional dengan menaikkan upah, produktivitas akan meningkat.
2.      Teori Tradisional (Teori Peralihan)
Teori tradisional muncul sebagai reaksi atas konsep-konsep yang dikemukakan oleh para ahli teori klasik meskipun tidak sepenuhnya mengabaikan prinsip-prinsip yang dikemukakan oleh teori klasik. Pendekatan yang dilakukan oleh ahli teori ini adalah pendekatan perilaku atau bahavioral approach (human relation approach). Pendekatan ini dilakukan dengan mengadakan eksperimen yang dikenal dengan Hawthorne Experiment yang secara garis besar dibagi dalam 4 tahap.
a)      Mengkaji efek lingkungan dari produktivitas pekerja
b)      Melakukan konsultasi dengan pekerja yang ikut eksperimen
c)      Melakukan wawancara dengan pekerja (yang tidak ikut eksperimen) melalui pertanyaan terbuka
d)     Eksperimen yang dikenal dengan bank - wiring - room experiment.
3.      Teori Mutakhir
Teori mutakhir atau modern merupakan pengembangan aliran hubungan manusiawi sekaligus sebagai pandangan baru tentang perilaku manusia dan sistem sosial. Dalam teori ini konsep manusia yang mewujudkan diri (motivasi manusia) sangat penting bagi manajemen organisasi.
4.      Teori Perilaku
Teori perilaku atau the behavior theory of organitation, berpendapat bahwa ada tidaknya, baik buruknya, suatu organisasi itu tergantung dari sikap kelakuan para anggotanya. Salah seorang penganut teori ini yang terkenal adalah Herbert A. Simon dalam bukunya ‘’Administrative Behaviour”.
Namun, sejak Barnard mempublikasikan “the function of the executive”, pikiran-pikiran baru muncul. Ia menyatakan bahwa organisasi adalah system orang, bukan struktur yang direkayasa secara mekanis.
5.      Teori Fusi  (Bakke & Argyris)
Banyaknya masalah dalam memuaskan minat manusia yang berlainan & dalam konteks memenuhi tuntutan penting struktur birokrasi, Bakke menyarankan suatu proses fusi. Pendapatnya bahwa organisasi, hingga suatu tahap tertentu, mempengaruhi individu, sementara pada saat yang sama individu pun mempengaruhi organisasi.
Argyris, seorang rekan bakke di Universitas Yale, menyempurnakan karya Bakke. Ia berpendapat bahwa ada suatu ketidaksesuaian yang mendasar antara kebutuhan pegawai yang matang dengan persyaratan formal organisasi. Organisasi mempunyai tujuan yang berlawanan dengan tujuan pegawai perseorangan. Para pegawai frustasi sebagai akibat dari ketidaksesuaian tersebut; sebagian pegawai mungkin meninggalkan tempat kerja mereka, menjadi apatis & acuh-tak-acuh. Melalui konflik ini para pegawai lainnya menyadari untuk tidak mengharapkan kepuasan dari pekerjaan mereka.
6.      Teori Peniti Penyambung (Likert)
Rensis Likert dari Universitas Michigan berjasa mengembangkan suatu model terkenal dengan sebutan model peniti penyambung (the linking pin model) yang menggambarkan struktur organisasi. Konsep peniti penyambung berkaitan dengan kelompok-kelompok yang tumpang tindih. Penyelia merupakan anggota dari 2 kelompok ; sebagai pemimpin unit yang lebih rendah dan anggota unit yang lebih tinggi. Penyelia berfungsi sebagai peniti penyambung, mengikat kelompok kerja yang satu dengan yang lainnya pada tingkat berikutnya.
Luthans berpendapat bahwa konsep peniti penyambung cenderung menekankan & memudahkan apa yang seharusnya terjadi dalam struktur klasik yang birokratik. Tetapi pola hierarkis atasan bawahan, sering mendorong komunikasi ke bawah, namun menghambat komunikasi ke atas dan ke samping.
7.      Teori Hubungan Manusiawi (Elton Mayo)
Hubungan manusia sangat penting dalam menopang suatu perusahaan dalam jangka panjang. Hubungan manusia bisa diinterprestasikan dalam bermacam-macam cara. Sebagian organisasi dan orang-orang melihat hubungan manusia dari sudut pandang yang berbeda secara keseluruhan.
Teori hubungan manusia ini menekankan pada pentingnya individu dan hubungan sosial dalam kehidupan organisasi. Teori ini menyarankan strategi peningkatan dan penyempurnaan organisasi dengan meningkatkan kepuasan anggota organisasi dan menciptakan organisasi yang dapat membantu individu mengembangkan potensinya. Dengan meningkatkan kepuasan kerja dan mengarahkan aktualisasi diri pekerja, akan mempertinggi motivasi bekerja sehingga akan dapat meningkatkan produksi organisasi.
8.      Teori Sistem
Teori sistem memandang organisasi sebagai kaitan bermacam-macam komponen yang saling tergantung satu sama lain dalam mencapai tujuan organisasi. Setiap bagian mempunyai peranan masing-masing dan berhubungan dengan bagian-bagian lain dan karena itu koordinasi penting dalam teori ini. Teori sistem adalah seperangkat prinsip yang terorganisasikan secara longgar dan sangat abstrak, yang berfungsi mengarahkan pikiran kita namun terikat pada berbagai penafsiran. Interdependensi menunjukkan bahwa terdapat kesaling bergantungan di antara komponen-komponen / satuan-satuan suatu sistem. Suatu perubahan pada suatu komponen membawa perubahan pada setiap komponen lainnya. Teori sistem memberikan suatu model deskripsi yang sangat kuat mengenai proses organisasi. Teori ini mempunyai banyak implikasi dan telah digunakan untuk mendeskripsikan fenomena organisasi dalam konteksnya sendiri.
Teori sistem menangani hakikat saling hubungan yang kompleks dari organisasi manusia dan menguraikan bagaimana organisasi bertumbuh dan berkembang. Tipe komunikasi yang dominan dalam organisasi yang menggunakan teori ini adalah komunikasi horizontal, baik dalam lingkungan organisasi maupun antara organisasi dengan organisasi lainnya.
9.      Teori Pergantungan Sumber
Teori ini  (Resource Dependency Theory) diutarakan Aldrich Teori ini lebih memperlihatkan bagaimana organisasi menjalin perhubungan antara organisasi demi kehidupan organisasi (survival) itu. Penglibatan persekitaran adalah penting karena organisasi berinteraksi dengannya demi keberkesanan terutama sekali bagi organisasi yang menyediakan perkhidmatan sosial.
Ringkasnya teori pergantungan sumber menerangkan pembentukan kuasa antara organisasi, kuasa yang didapati daripada pergantungan organisasi lain kepada sumber yang didapati daripada pergantungan organisasi lain kepada sumber yang dimiliki oleh satu-satu organisasi. Jika sekiranya, alternatif sumber tersedia, jadi kuasa pergantungan sumber kekurangan. Mahu ataupun tidak, organisasi mesti melibatkan diri dalam perhubungan antar organisasi.
10.  Teori Kontingensi
Teori ini (Contingency Theory) hasil gabungan idea Lawrence dan Lorch dan Galbraith. Ringkasan teori ini mengatakan tidak ada cara yang paling baik untuk mengurus organisasi. Apa saja yang bersesuaian dengan keadaan adalah baik, dan cara untuk mengurus bergantung kepada keadaah disekitar.[1]



[1] Saodah Wok, Narimah Ismail, dan M. Yusof Hussain, Teori-Teori Komunikasi, (Kuala Lumpur: PTS Professional Publishing, 2006), hlm. 93-94.

HAMBATAN-HANBATAN DALAM KOMUNIKASI ORGANISASI


Komunikasi dalam berorganisasi tidak selamanya berjalan dengan mulus seperti yang di harapkan. Seringkali dalam komunikasi terjadi kesalahphaman antara satu anggota dengan anggota lain. Robbins meringkas beberapa hambatan komunikasi sebagai berikut:
1.      Penyaringan (Filtering)
Hambatan ini merupakan komunikasi yang dimanipulasikan oleh si pengirim sehingga namapak bersifat  menyenagkan penerima.
2.      Presepsi Selektif
 Hamabatan ini merupakan keadaan dimana penerima pesan didalam proses komunikasi melihat dan mendengar atas dasar keperluan, motivasi, latar brlakang pengalaman, dan ciri ciri pribadi lainnya.
3.      Perasaan
Hambatan ini merupakan bagaimana perasaaan peenerima pada saat dia menerima pesan komunikasi akan mempengaruhi cara dia menginterpretasikan pesan.
4.      Bahasa
Kata-kata memiliki makna yang berbeda antara seseorang dengan orang lain. kadang kadang arti dari sebuah kata tidak berada pada kata itu sendiri tetapi pada kita. 
5.      Hambatan Struktur
Hambatan ini bisa disebut hambatan organisasi. yaitu hambatan yang disebabkan oleh adanya perbedaan tingkat, perbedaan job dalam struktur organisasi.
6.      Hambatan Jarak
Hambatai ini bisa disebut hambatan geografis, dair segi jarak atau geografis komunikasi akan lebih mudah berlangsung apabila antara kedua belah pihak yang saling mengadakan interkasi itu berada di suatu tempat yang tidak berjauhan
7.      Hambatan Latar Belakang
Setiap orang mempunyai latar belakang yang berbeda, perbedaan latar belakang dapat menimbulkan, suatu GAP atau hambatan dalam proses komunikasi.[1]



[1] Stephen P. Robbin dan Timothy A. Judge, Perilaku Organisasi: Organizational Behavior, Penerjemah: Diana Angelica, Ria Cahyani, dan Abdul Rosyid, (Jakarta: Selemba Empat, 2008), 27-29.

KEBUNTUAN KOMUNIKASI TERAPEUTIK

Kebuntuan terapeutik atau hambatan kemajuan hubungan perawat-pasien yang timbul karena berbagai alasan dan mungkin terjadi dalam berbagai bentuk yang berbeda, tetapi semuanya menghambat hubungan terapeutik. Oleh karena itu, perawat diharuskan mengatasinya.
Kebutuhan ini menimbulkan perasaan tegang baik perawat maupun pasien yang berkisar dari ansietas dan kekhawatiran sampai frustasi, cinta, atau sangat marah.
Bentuk-bentuk hambatan komunikasi terapeutik adalah sebagai berikut :
a)      Resistens
Resistens merupakan upaya klien untuk tidak menyadari aspek dari penyebab cemas atau kegelisahan yang dialami. Ini juga merupakan keengganan alamiah atau penghindaran secara verbal yang dipelajari. Klien yang resisten biasanya menunjukkan ambivalensi antara menghargai tetapi juga menghindari pengalaman yang menimbulkan cemas padahal hal ini merupakan bagian normal dalam proses terapeutik. Resisten ini sering akibat dari ketidaksesuaian klien untuk berubah ketika kebutuhan untuk berubah telah dirasakan. Perilaku resisten biasanya diperlihatkan oleh klien pada fase kerja, karena pada fase ini sangat banyak berisi proses penyelesaiaan masalah (Stuart dan Sundeen dalam Intan. 2005).
Beberapa bentuk resistensi :
1)      Supresi dan represi informasi yang terkait
2)      ntensifikasi gejala
3)      Devaluasi diri serta pandangan dan keputusasaan tentang masa depan
4)      Dorongan untuk sehat, yang terjadi secara tiba-tiba tetapi hanya kesembuhan yang bersifat sementara
5)      Hambatan intelektual yang mungkin tampak ketika klien mengatakan ia tidak mempunyai pikiran apapun atau tidak mampu memikirkan masalahnya, saat ia tidak memenuhi janji untuk pertemuan atau tiba terlambat untuk suatu sesi, lupa, diam, atau mengantuk
6)      Pembicaraan yang bersifat permukaan/ dangkal
7)      Penghayatan intelektual dimana klien memverbalisasi pemahaman dirinya dengan menggunakan istilah yang tepat namun tetap berprilaku maladaptive, atau menggunakan mekanisme pertahanan intelektualisasi tanpa diikuti penghayatan
8)      Muak terhadap normalitas yang terlihat ketika klien telah mempunyai penghayatan tetap menolak memikul tanggung jawab untuk berubahdengan alas an bahwa normalitas adalah hal yang tidak penting
9)      Reaksi transference (respon tidak sadar dimana klien mengalami perasaan dan sakit terhadap perawat yang pada dasarnya terkait dengan tokoh dengan kehidupan yang dulu)
10)  Perilaku amuk atau tidak rasional

b)      Transference
Transference merupakan respon tak sadar berupa perasaan atau perilaku terhadap perawat yang sebetulnya berawal dari berhubungan dengan orang-orang tertentu yang bermakna baginya pada waktu dia masih kecil (Stuart dan Sundeen , 1995). Reaksi transference membahayakan untuk proses terapeutik hanya bila hal ini diabaikan dan tidak ditelaah oleh perawat. Ada dua jenis utama reaksi transference yaitu reksi bermusuhan dan tergantung.
Contoh reaksi transference bermusuhan (Intan, 2005) : Bungkus (15 tahun) adalah klien yanag dirawat dirumah sakit karena demam berdarah. Tanpa sebab yang jelas klien ini marah-marah kepada perawat Gengki. Setelah dikaji, ternyata Gengki ini mirip pacar si Bungkus yang pernah menyakiti hatinya. Hal ini dikarenakan klien mengalami perasaan dan sikap terhadap perawat yang pada dasarnya terkait dengan tokoh kehidupan yang lalu.
Contoh reaksi transference tergantung ( Intan, 2005) : Seorang klien, Sinchan (18 tahun), dirawat oleh perawat bidadari. Perawat itu mempunyai wajah dan suara mirip Ibu klien, sehingga dalam setiap tindakan keperawatan yang harus dilakukan selalu meminta perawat bidadari yang melakukannya.

c)      Coutertransference
Coutertrasference merupakan kebutuhan terapeutik yang di buat oleh perawat dan bukan oleh klien. Hal ini dapat mempengaruhi hubungan perawat-klien. Beberapa bentuk countransference (Stuart dan 
Sundeen dalam Intan, 2005):
1)      Ketidakmampuan berempati terhadap klien dalam masalah tertentu.
2)      Menekan perasaan selama  atau sesudah sesi.
3)      Kecerobohan dalam mengimplementasikan kontrak dengan datang terlambat, atau melampaui waktu yang telah ditentukan.
4)      Mengantuk selama sesi.
5)      Perasaan marah atau tidak sabar karena ketidak inginan klien untuk  berubah.
6)      Dorongan terhadap ketergantungan, pujian atau efeksi klien.
7)      Berdebat dengan klien atau kecendrungan untuk memaksa klien sebelum ia siap.
8)      Mencoba untuk menolong klien dalam segala hal tidak berhubungan dengan tujuan keperawatan yang telah diidentifikasi.
9)      Keterlibatan dengan klien dalam tingkat personal dan sosial.
10)   Melamunkan atau memikirkan  klien.
11)   Fantasi seksual atau agresi yang diarahkan kepada klien.
12)   Perasaan cemas, gelisah atau  persaan bersalah terhadap kien
13)   Kecendrungan untuk memusatkan secara berulang hanya pada satu aspek atau cara memandang pada informasi yang  di berikan klien.
14)   Kebutuhan untuk mempertahankan intervensi keperawatan dengan klien.
Reaksi coutrtrasference biasanya dalam tiga bentuk (  Stuart dan Sundeen dalam Intan, 2005):
Ø  Reaksi sangat mencintai atau “caring”.
Perawat Dono melakukan perawatan pada klien dini dengan cara yang berlebih-lebihan yaitu dengan cara ,masih berlama-lama mengobrol dengan klien tersebut padahal masih banyak klien yang perlu di tangani.perawat Dono juga mencoba menolong klien dengan segala hal yang tidak berhubungan dengan tujuan yang telah diidentifikasi.

Ø  Reaksi sangat bermusuhan.
Perawat Dora mempunyai klien yang sangat Menjenkelkan. Derry (25 tahun) Derry ini selalu marah-marah dan menjengkelkan perawat Dora sangat dendam pada klien ini dan selalu mengacuhkan Derry meskipun dia membutuhkan pertolongan
Ø  Reaksi sangat cemas sering kali di gunakan sebagai respon terhadap resistensi
Terdapat Lima cara mengidentifikasikan terjadi countertransference (Stuart G.W dalam Suryani , 2006):
1)      Perawat harus mempunyai standar yang sama terhadap dirinya sendiri atas apa yang di harapkan kepada kliennya.
2)      Perawat harus menguji diri sendiri melalui latihan menjalin hubungan, terutama ketika klien menentang atau mengeritik.
3)      Perawat harus dapat menemukan sumber masalahnya.
4)      Ketika countertrasference terjadi, perawat harus dapat melatih diri untuk mengontrolnya.
5)      Jika perawat membutuhkan pertolongan dalam mengatasi countertransference, pengawasan secara individu maupun kelompok dapat lebih membantu.
d)     Pelanggaran batas.
Perawat perlu membatasi hubungannya dengan klien. Batas hubungan perawat-klien adalah bahwa hubungan yang di bina adalah hubungan terapeutik,dalam hubungan ini perawat berperan sebagai penolong dan klien berperan sebagai yang di tolong. Baik perawat maupun klien harus menyadari batas tersebut (Suryani, 2006).
            Pelanggaran batas terjadi jika perawat melampaui batas hubungan yang terapeutik dan membina hubungan sosial, ekonomi, atau personal dengan klien. Ada beberapa batas hubungan perawat dank lien (stuart dan sundeen, dalam Intan, 2005)
1)      Batas peran, masalah batas peran ini memerlukan wawasan dan pengetahuan yang luas dari perawat serta penentuan secara tegas mengenai batas-batas terapeutik perawat dan klien.
2)      Batas waktu, penetapan waktu perlu dilakukan dimana perawat mengadakan hubungan terapeutiknya dengan klien. Waktu pengobatan atau hubungan terapeutik yang tidak wajar dan tidak mempunyai tujuan terapeutik harus dievaluasi kembali untuk mencegah terjadinya pelanggaran batas.
3)      Batas tempat dan ruang, misalnya wawancara dimana? Kapan dan berapa lama?. Batas ini biasanya berhubungan dengan perawatan yang dilakukan. Pemanfaatan terapeutik diluar kebiasaan misalnya dimobil atau dirumah klien, harus dengan tindakan terapeutik yang rasional dan mempunyai tujuan yang jelas. Perawat tidak di perbolehkan t dalam melakukan tindakan dikamar klien kadang perlu menghormati batas-batas tertentu misanya pintu terbuka atau ada pegawai yang lain.
4)      Batas uang, batas ini berhubungan dengan penghargaan klien dengan perawat berupa uang. Disini juga perlu adanya perhatian mengenai tawar-menawar terhadap klien miskin tentang biaya pengobatan untuk mencegah timbulnya pelanggaran batas.
5)      Batas pemberian hadiah dan pelayanan. Masalah ini controversial dalam keperawatan, namun yang pasti hal ini melanggar batas.
6)      Batas pakaian. Batas ini berhubungan dengan kebutuhan perawat dalam berpakaian secara tepat dalam hubungan terapeutik perawat dank lien. Dimana perawat tidak diperbolehkan memakai pakaian yang tidak sopan.
7)      Batas bahasa. Perawat perlu memperhatikan nada bicara dan pilihan kata ketika komunikasi dengan klien. Tidak terlalu akrab, mengarah sikap seksul dan memberikan pendapat dengan nada menggurui merupakan pelanggaran batas.
8)      Batas pengungkapan diri secara personal. Mengungkapkan  diri secara personal dari perawat yang tidak berhubungan dengan tujuan terapeutik dapat mengarah kepada pelanggaran batas.
9)      Batas kontak fisik, Semua kontak fisik dengan klien harus dievaluasi untuk melihat apakah melanggar batas atau tidak. Beberapa jenis kontak fisik/ seksual terhadap kien yang tidak pernah tercangkup dalam hubungan terpeutik antara perawat dengan klien.
Untuk mencegah terjadinya pelanggaran batas dalam berhubungan dengan klien, perawat sejak awal interkasi perlu menjelaskan atau membuat kesepakatan bersama klien tentang hubungan yang mereka jalin. Kemudian selama berinteraksi perawat harus berhati-hatidalam berbicara agar tidak banyak terlibat dalam komunikasi sosial. Dengan selalu berfokus pada tujuan interaksi, perawat bisa terhindar daripelanggaran terhadap batas-batas dalam berhubungan dengan klien.selalu mengingatkan kontrak dan tujuan interaksi setiap kali bertemu dengan klien juga dapat menghindari pelanggaran batas ini.(Suryani 2006).
Contoh pelagggaran batas yaitu (Intan 2005):
Ø  Klien mengajak makan perawat siang atau maka malam  di luar.
Ø   Klien memperkenalkan perawat pada keluarganya.
Ø  Perawat menerima pemberian hadiah dari bisnis klien.
Ø  Perawat menghadiri  acara-acara  sosial pasien.
Ø  Klien memberi perawat hadiah.
Ø   Perawat secara rutin memeluk dan memegang klien.
Ø  Perawat menjalankan bisnis atau memesan pelayanan dari klien.
Ø  Perawat secara teratur memberi informasi personal kepada klien.
Ø  Hubungan professional berubah menjadi hubungan sosial.
Ø   Perawat menghadiri undangan klien.
Pemberian hadiah merupakan masalah yang kontroversial dalam keperawatan. Disatu pihak ada yang menyatakan bahwa pemberian hadiah dapat membantu dalam mencapai tujuan terapeutik, tapi dipihak lain ada yang menyatakan bahwa pemberian hadiah bisa merusak hubungan terapeutik.
Hadiah dapat dalam berbagai bentuk misalnya yang nyata seperti sekotak permen, rangkaian bunga, rajutan atau lukisan. Sedangkan yang tidak nyata bisa berupa ekspresi ucapan terima kasih dari klien kepada perawat sebagai orang yang akan meninggalkan rumah sakit atau dari anggota keluarga yang lega dan berterima kasih atas bantuan perawat dalam meringankan beban emosional klien.

Mengatasi kebuntuan Terapeutik
Untuk mengatasi hambatan teurapeutik, perawat harus siap mengungkapkan perasaan emosional yang sangat kuat dalam konteks hubungan perawat -pasien. Awalnya , perawat harus mempunyai pengetahuan tentang hambatan teurapeutik dan mengenali prilaku yang menunjukkan adanya hambatan tersebut. Kemudian perawat dapat mengklarifikasi dan mengungkapkan perasaan serta isi agar lebih berfokus secara objektif pada apa yang sedang terjadi.
Latar belakang prilaku dikaji, baik pasien (untuk reaksi resistens dan transferensa) atau perawat (untuk reaksi kontertransferens dan pelanggaran batasan) bertanggung jawab terhadap hambatan teurapeutik dan dampak negatifnya pada proses teurapeutik. Terakhir, tujuan hubungan, kebutuhan, dan masalah pasien ditinjau kembali. Hal ini dapat membantu perawat untuk membina kembali kerja sama teurapeutik yang sesuai dengan proses hubungan perawat-pasien.