Blue Wings - Working In Background

"Sambas"

Powered By Blogger

GOOGLE FEED BURNER

Enter your email address:

Delivered by FeedBurner

BERDIRI DI UJUNG NEGERI

PERBATASAN INDONESIA-MALAYSIA, TEMAJUK, SAMBAS.

TUGU GARUDA PERBATASAN

TEMAJUK, SAMBAS.

TANJUNG DATOE INDONESIA

INDAHNYA INDONESIA KU, TEMAJUK, SAMBAS.

PERBATASAN INDONESIA-MALAYSIA

BERDIRI DI BATAS NEGERI, TEMAJUK, SAMBAS.

TUGU KETUPAT BERDARAH

SAKSI BISU PERTUMPAHAN DARAH 1999, JAWAI, SAMBAS

Wednesday, 16 November 2016

KEBUNTUAN KOMUNIKASI TERAPEUTIK

Kebuntuan terapeutik atau hambatan kemajuan hubungan perawat-pasien yang timbul karena berbagai alasan dan mungkin terjadi dalam berbagai bentuk yang berbeda, tetapi semuanya menghambat hubungan terapeutik. Oleh karena itu, perawat diharuskan mengatasinya.
Kebutuhan ini menimbulkan perasaan tegang baik perawat maupun pasien yang berkisar dari ansietas dan kekhawatiran sampai frustasi, cinta, atau sangat marah.
Bentuk-bentuk hambatan komunikasi terapeutik adalah sebagai berikut :
a)      Resistens
Resistens merupakan upaya klien untuk tidak menyadari aspek dari penyebab cemas atau kegelisahan yang dialami. Ini juga merupakan keengganan alamiah atau penghindaran secara verbal yang dipelajari. Klien yang resisten biasanya menunjukkan ambivalensi antara menghargai tetapi juga menghindari pengalaman yang menimbulkan cemas padahal hal ini merupakan bagian normal dalam proses terapeutik. Resisten ini sering akibat dari ketidaksesuaian klien untuk berubah ketika kebutuhan untuk berubah telah dirasakan. Perilaku resisten biasanya diperlihatkan oleh klien pada fase kerja, karena pada fase ini sangat banyak berisi proses penyelesaiaan masalah (Stuart dan Sundeen dalam Intan. 2005).
Beberapa bentuk resistensi :
1)      Supresi dan represi informasi yang terkait
2)      ntensifikasi gejala
3)      Devaluasi diri serta pandangan dan keputusasaan tentang masa depan
4)      Dorongan untuk sehat, yang terjadi secara tiba-tiba tetapi hanya kesembuhan yang bersifat sementara
5)      Hambatan intelektual yang mungkin tampak ketika klien mengatakan ia tidak mempunyai pikiran apapun atau tidak mampu memikirkan masalahnya, saat ia tidak memenuhi janji untuk pertemuan atau tiba terlambat untuk suatu sesi, lupa, diam, atau mengantuk
6)      Pembicaraan yang bersifat permukaan/ dangkal
7)      Penghayatan intelektual dimana klien memverbalisasi pemahaman dirinya dengan menggunakan istilah yang tepat namun tetap berprilaku maladaptive, atau menggunakan mekanisme pertahanan intelektualisasi tanpa diikuti penghayatan
8)      Muak terhadap normalitas yang terlihat ketika klien telah mempunyai penghayatan tetap menolak memikul tanggung jawab untuk berubahdengan alas an bahwa normalitas adalah hal yang tidak penting
9)      Reaksi transference (respon tidak sadar dimana klien mengalami perasaan dan sakit terhadap perawat yang pada dasarnya terkait dengan tokoh dengan kehidupan yang dulu)
10)  Perilaku amuk atau tidak rasional

b)      Transference
Transference merupakan respon tak sadar berupa perasaan atau perilaku terhadap perawat yang sebetulnya berawal dari berhubungan dengan orang-orang tertentu yang bermakna baginya pada waktu dia masih kecil (Stuart dan Sundeen , 1995). Reaksi transference membahayakan untuk proses terapeutik hanya bila hal ini diabaikan dan tidak ditelaah oleh perawat. Ada dua jenis utama reaksi transference yaitu reksi bermusuhan dan tergantung.
Contoh reaksi transference bermusuhan (Intan, 2005) : Bungkus (15 tahun) adalah klien yanag dirawat dirumah sakit karena demam berdarah. Tanpa sebab yang jelas klien ini marah-marah kepada perawat Gengki. Setelah dikaji, ternyata Gengki ini mirip pacar si Bungkus yang pernah menyakiti hatinya. Hal ini dikarenakan klien mengalami perasaan dan sikap terhadap perawat yang pada dasarnya terkait dengan tokoh kehidupan yang lalu.
Contoh reaksi transference tergantung ( Intan, 2005) : Seorang klien, Sinchan (18 tahun), dirawat oleh perawat bidadari. Perawat itu mempunyai wajah dan suara mirip Ibu klien, sehingga dalam setiap tindakan keperawatan yang harus dilakukan selalu meminta perawat bidadari yang melakukannya.

c)      Coutertransference
Coutertrasference merupakan kebutuhan terapeutik yang di buat oleh perawat dan bukan oleh klien. Hal ini dapat mempengaruhi hubungan perawat-klien. Beberapa bentuk countransference (Stuart dan 
Sundeen dalam Intan, 2005):
1)      Ketidakmampuan berempati terhadap klien dalam masalah tertentu.
2)      Menekan perasaan selama  atau sesudah sesi.
3)      Kecerobohan dalam mengimplementasikan kontrak dengan datang terlambat, atau melampaui waktu yang telah ditentukan.
4)      Mengantuk selama sesi.
5)      Perasaan marah atau tidak sabar karena ketidak inginan klien untuk  berubah.
6)      Dorongan terhadap ketergantungan, pujian atau efeksi klien.
7)      Berdebat dengan klien atau kecendrungan untuk memaksa klien sebelum ia siap.
8)      Mencoba untuk menolong klien dalam segala hal tidak berhubungan dengan tujuan keperawatan yang telah diidentifikasi.
9)      Keterlibatan dengan klien dalam tingkat personal dan sosial.
10)   Melamunkan atau memikirkan  klien.
11)   Fantasi seksual atau agresi yang diarahkan kepada klien.
12)   Perasaan cemas, gelisah atau  persaan bersalah terhadap kien
13)   Kecendrungan untuk memusatkan secara berulang hanya pada satu aspek atau cara memandang pada informasi yang  di berikan klien.
14)   Kebutuhan untuk mempertahankan intervensi keperawatan dengan klien.
Reaksi coutrtrasference biasanya dalam tiga bentuk (  Stuart dan Sundeen dalam Intan, 2005):
Ø  Reaksi sangat mencintai atau “caring”.
Perawat Dono melakukan perawatan pada klien dini dengan cara yang berlebih-lebihan yaitu dengan cara ,masih berlama-lama mengobrol dengan klien tersebut padahal masih banyak klien yang perlu di tangani.perawat Dono juga mencoba menolong klien dengan segala hal yang tidak berhubungan dengan tujuan yang telah diidentifikasi.

Ø  Reaksi sangat bermusuhan.
Perawat Dora mempunyai klien yang sangat Menjenkelkan. Derry (25 tahun) Derry ini selalu marah-marah dan menjengkelkan perawat Dora sangat dendam pada klien ini dan selalu mengacuhkan Derry meskipun dia membutuhkan pertolongan
Ø  Reaksi sangat cemas sering kali di gunakan sebagai respon terhadap resistensi
Terdapat Lima cara mengidentifikasikan terjadi countertransference (Stuart G.W dalam Suryani , 2006):
1)      Perawat harus mempunyai standar yang sama terhadap dirinya sendiri atas apa yang di harapkan kepada kliennya.
2)      Perawat harus menguji diri sendiri melalui latihan menjalin hubungan, terutama ketika klien menentang atau mengeritik.
3)      Perawat harus dapat menemukan sumber masalahnya.
4)      Ketika countertrasference terjadi, perawat harus dapat melatih diri untuk mengontrolnya.
5)      Jika perawat membutuhkan pertolongan dalam mengatasi countertransference, pengawasan secara individu maupun kelompok dapat lebih membantu.
d)     Pelanggaran batas.
Perawat perlu membatasi hubungannya dengan klien. Batas hubungan perawat-klien adalah bahwa hubungan yang di bina adalah hubungan terapeutik,dalam hubungan ini perawat berperan sebagai penolong dan klien berperan sebagai yang di tolong. Baik perawat maupun klien harus menyadari batas tersebut (Suryani, 2006).
            Pelanggaran batas terjadi jika perawat melampaui batas hubungan yang terapeutik dan membina hubungan sosial, ekonomi, atau personal dengan klien. Ada beberapa batas hubungan perawat dank lien (stuart dan sundeen, dalam Intan, 2005)
1)      Batas peran, masalah batas peran ini memerlukan wawasan dan pengetahuan yang luas dari perawat serta penentuan secara tegas mengenai batas-batas terapeutik perawat dan klien.
2)      Batas waktu, penetapan waktu perlu dilakukan dimana perawat mengadakan hubungan terapeutiknya dengan klien. Waktu pengobatan atau hubungan terapeutik yang tidak wajar dan tidak mempunyai tujuan terapeutik harus dievaluasi kembali untuk mencegah terjadinya pelanggaran batas.
3)      Batas tempat dan ruang, misalnya wawancara dimana? Kapan dan berapa lama?. Batas ini biasanya berhubungan dengan perawatan yang dilakukan. Pemanfaatan terapeutik diluar kebiasaan misalnya dimobil atau dirumah klien, harus dengan tindakan terapeutik yang rasional dan mempunyai tujuan yang jelas. Perawat tidak di perbolehkan t dalam melakukan tindakan dikamar klien kadang perlu menghormati batas-batas tertentu misanya pintu terbuka atau ada pegawai yang lain.
4)      Batas uang, batas ini berhubungan dengan penghargaan klien dengan perawat berupa uang. Disini juga perlu adanya perhatian mengenai tawar-menawar terhadap klien miskin tentang biaya pengobatan untuk mencegah timbulnya pelanggaran batas.
5)      Batas pemberian hadiah dan pelayanan. Masalah ini controversial dalam keperawatan, namun yang pasti hal ini melanggar batas.
6)      Batas pakaian. Batas ini berhubungan dengan kebutuhan perawat dalam berpakaian secara tepat dalam hubungan terapeutik perawat dank lien. Dimana perawat tidak diperbolehkan memakai pakaian yang tidak sopan.
7)      Batas bahasa. Perawat perlu memperhatikan nada bicara dan pilihan kata ketika komunikasi dengan klien. Tidak terlalu akrab, mengarah sikap seksul dan memberikan pendapat dengan nada menggurui merupakan pelanggaran batas.
8)      Batas pengungkapan diri secara personal. Mengungkapkan  diri secara personal dari perawat yang tidak berhubungan dengan tujuan terapeutik dapat mengarah kepada pelanggaran batas.
9)      Batas kontak fisik, Semua kontak fisik dengan klien harus dievaluasi untuk melihat apakah melanggar batas atau tidak. Beberapa jenis kontak fisik/ seksual terhadap kien yang tidak pernah tercangkup dalam hubungan terpeutik antara perawat dengan klien.
Untuk mencegah terjadinya pelanggaran batas dalam berhubungan dengan klien, perawat sejak awal interkasi perlu menjelaskan atau membuat kesepakatan bersama klien tentang hubungan yang mereka jalin. Kemudian selama berinteraksi perawat harus berhati-hatidalam berbicara agar tidak banyak terlibat dalam komunikasi sosial. Dengan selalu berfokus pada tujuan interaksi, perawat bisa terhindar daripelanggaran terhadap batas-batas dalam berhubungan dengan klien.selalu mengingatkan kontrak dan tujuan interaksi setiap kali bertemu dengan klien juga dapat menghindari pelanggaran batas ini.(Suryani 2006).
Contoh pelagggaran batas yaitu (Intan 2005):
Ø  Klien mengajak makan perawat siang atau maka malam  di luar.
Ø   Klien memperkenalkan perawat pada keluarganya.
Ø  Perawat menerima pemberian hadiah dari bisnis klien.
Ø  Perawat menghadiri  acara-acara  sosial pasien.
Ø  Klien memberi perawat hadiah.
Ø   Perawat secara rutin memeluk dan memegang klien.
Ø  Perawat menjalankan bisnis atau memesan pelayanan dari klien.
Ø  Perawat secara teratur memberi informasi personal kepada klien.
Ø  Hubungan professional berubah menjadi hubungan sosial.
Ø   Perawat menghadiri undangan klien.
Pemberian hadiah merupakan masalah yang kontroversial dalam keperawatan. Disatu pihak ada yang menyatakan bahwa pemberian hadiah dapat membantu dalam mencapai tujuan terapeutik, tapi dipihak lain ada yang menyatakan bahwa pemberian hadiah bisa merusak hubungan terapeutik.
Hadiah dapat dalam berbagai bentuk misalnya yang nyata seperti sekotak permen, rangkaian bunga, rajutan atau lukisan. Sedangkan yang tidak nyata bisa berupa ekspresi ucapan terima kasih dari klien kepada perawat sebagai orang yang akan meninggalkan rumah sakit atau dari anggota keluarga yang lega dan berterima kasih atas bantuan perawat dalam meringankan beban emosional klien.

Mengatasi kebuntuan Terapeutik
Untuk mengatasi hambatan teurapeutik, perawat harus siap mengungkapkan perasaan emosional yang sangat kuat dalam konteks hubungan perawat -pasien. Awalnya , perawat harus mempunyai pengetahuan tentang hambatan teurapeutik dan mengenali prilaku yang menunjukkan adanya hambatan tersebut. Kemudian perawat dapat mengklarifikasi dan mengungkapkan perasaan serta isi agar lebih berfokus secara objektif pada apa yang sedang terjadi.
Latar belakang prilaku dikaji, baik pasien (untuk reaksi resistens dan transferensa) atau perawat (untuk reaksi kontertransferens dan pelanggaran batasan) bertanggung jawab terhadap hambatan teurapeutik dan dampak negatifnya pada proses teurapeutik. Terakhir, tujuan hubungan, kebutuhan, dan masalah pasien ditinjau kembali. Hal ini dapat membantu perawat untuk membina kembali kerja sama teurapeutik yang sesuai dengan proses hubungan perawat-pasien.


TRANSLATION

The idea that “the Bible” existed in the early Protestant mission empire is something of a misnomer. Biblical translation was time consuming. Getting agreement on how to translate key terms such as baptism, spirit, and resurrection was arduous. Most mission societies worked through the Bible Society, which generally demanded that all Protestant mission in one language area collaborate on the translation. Diversity of denominational opinion further delayed the process. In some cases, it took half a century before both testaments were translated and published as one volume. “The Bible” could hence exist as a handful of separate booklets that were indistinguishable from other pamphlets (Hofmeyr 2004: 77-9).
Complicating this picture was the way in which the Bible (or parts of it) was changed as it entered new spiritual traditions. In the case of Africa, with some 1,000 languages and as many ethnic groups, the Bible came to be reinterpreted in diverse ways. This “reformation” was possible since Christianity in Africa was spread by Africans. Missionaries were few and far between and were generally culturally remote from the people they proselytized. The work of brokering the gospel fell to the African foot soldiers of Christianity, the catechists, evangelists, and Bible women who knew how best to present new ideas to their audiences.
African Christianity produced distinctive theologies. These included an Africa Christology (Christ as intermediary rather than son of God), a stress on healing, and emphasis on the gifts of the Holy Spirit. In other cases, African Christians “re-biblicized” the Bible, playing up Old Testament themes of prophecy and polygamy that the missionaries sought to downplay (Hastings 1994).
Orality and literacy provided another site for both re- and (in some instances) de-biblicization. Christian sacred texts pivot on a metaphorical conjunction of the oral and the written. God’s oral voice is mediated in print (or manuscript): “The ritual of reading recapitulates the primal experience of speaking and hearing the word of God” (Stock 1990: 149). These themes assumed an added edge when introduced into sub-Saharan societies that were oral or paraliterate. Here ideas of divine orality and literacy were fused in novel ways. In some case, literacy was believed to come directly from God (rather than via the tainted agency of the missionaries) and was conferred miraculously on believers by angels in dreams and visions (Hofmeyr 2006). In a very different instance, the Friday Masowe Church in Zimbabwe refuses to use the Bible because they receive the Word “live and direct” as they say form the Holy Spirit (Engelke 2007).

Isabel Hofmeyr

CARA PEMAKAIAN FONT TIMES NEW ARABIC UNTUK TRANSLITERASI ARAB-LATIN

Oleh: Halim Setiawan

Sebelum menggunakan instruksi ini, Anda harus meng-install dulu font Times New Arabic dan memilih font tersebut dalam program under windows (seperti Microsoft Word) yang sedang digunakan.
Petunjuk Penggunaan Font:
Karakter khusus yang terpakai dalam transliterasi Arab-Latin menurut Surat Keputusan Bersama Menteri Agama RI dan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI Tahun 1987, Nomor: 0543 b/U/1987, adalah sebagai berikut:
1.  Untuk membuat huruf besar (S, D, T, H, Z) dengan titik di bawah, tekan tombol Shift untuk membuat huruf besar disusul tombol huruf (S, D, T, H, Z) lalu, sambil tetap menekan tombol Shift, tekan tombol {
2.  Untuk membuat huruf kecil (s, d}, t, h, z) dengan titik di bawah, ketik (s, d, t, h, z) lalu tekan tombol Shift disusul dengan tombol }
3.  Untuk membuat huruf besar (S, Z) dengan titik di atas, tekan tombol Shift untuk membuat huruf besar disusul tombol huruf (S, Z) lalu, sambil tetap menekan tombol Shift, tekan tombol \
4.  Untuk membuat huruf kecil (s, z) dengan titik di atas, ketik (s, z) lalu tekan tombol \ (tanpa menekan tombol Shift)
5.  Untuk membuat huruf besar (A, U) dengan garis panjang di atas, tekan tombol Shift untuk membuat huruf besar (A, U) lalu, sambil tetap menekan tombol Shift, tekan tombol <
6.  Untuk membuat huruf kecil (a, i, u) dengan garis panjang di atas, ketik (a, i, u) lalu, sambil tetap menekan tombol Shift, tekan tombol >
7.  Untuk membuat huruf besar (I) dengan garis panjang di atas, tekan tombol Shift untuk membuat huruf besar (I) lalu, sambil tetap menekan tombol Shift, tekan tombol @
8.  Untuk membuat karakter apostrof terbalik () sebagai simbol huruf ‘ain,  tekan tombol Ctrl sambil menekan tombol (~) sekali.



BAGAIMANA MEMULAI MENULIS


Cara Menangkap Ide
  1. Membawa alat tulis dan buku catatan serta buku bacaan kemanapun Anda  pergi.
  2. Buat catatan mengenai hal-hal yang menarik dari peristiwa yang terjadi di sekeliling Anda.
  3. Simak materi pengajian, adakan penelitian dan wawancara serta diskusi, kemudian hasilnya masukan ke dalam map.
  4. Biasakan menulis dari hari kehari. Pendek juga tidak masalah, jika Anda  tidak punya kesempatan untuk menulis tulisan yang panjang.
  5. Catat setiap ada ide datang ke pikiran Anda.
 Teknik Memilih Topik
  1. Pemilihan topik dilakukan sebagai pembatasan dari banyaknya topik yang mungkin bisa diangkat ke dalam tulisan.
  2. Ketika banyak topik yang ada, maka pilih salah satu yang cocok dengan minat dan lebih banyak bahan-bahannya. Kemudian topik itu kaitkan dengan dengan tujuan anda menulis atau dari salah satunya dikaitkan dengan aspek lain yang berkaitan dengan topik dan persoalan aktual.
 Setelah memiliki topik, kini saatnya menguji apa yang sudah didapatkan:
1.      Apakah topik yang didapatkan, menarik dan bernilai tinggi bagi orang banyak?;
2.      Apakah topik yang dipilih, tepat waktunya?;
3.      Apakah topik yang dipilih itu cocok bagi sasaran yang hendak dijadikan sasaran?
4.      Lalu tentukan apa jenis tulisan yang digunakan? Apakah lebih tepat jika dijadikan artikel, feature, atau mungkin, cerpen, bahkan puisi. 

Kiat Mengorganisir Topik
Pemolaan dimaksudkan sebagai sarana untuk mempermudah sistematika pembahasan. Berikut adalah langkah-langkahnya.
  1. Gambarkan tentang fakta-faktanya. Gambaran kenyataan yang dipilih, sebaiknya yang dipersiapkan untuk menghantarkan bahwa dibalik fakta itu anda mengungkap adanya masalah.
  2. Persoalan atau masalah. Setelah fakta terurai, jelaskanlah bahwa di balik fakta itu ada masalah yang berharga jiga dibahas.
  3. Sampaikan beberapa penjelasan tentang kondisi yang seharusnya, dari ketimpangan antara fakta dengan keharusan tersebut, dengan memakai teori atau alur logika yang lurus.
  4. Berikan jalan ke luar dari persoalan yang disampaikan di muka, dengan argumentasi yang logis, tanpa ada kesan mengajari.
  5. Baru membuat kata penutup atau kesimpulan, dari semua yang diuraikan. Penutup itu yang akan meberi kesan terakhir bagi pembacanya. Dengan demikian, perlu dibuat agar benar-benar membawa kesan.
 Teknik Menyiasati Judul
            Judul adalah kepala tulisan. Ia adalah cermin dari keseluruhan isi. Ia juga yang pertama kali ditatap oleh pembaca. Oleh karena itu, judul memiliki peran yang sangat penting dalam sebuah tulisan.  Baik atau buruknya suatu tulisan, dan jadi atau tidaknya pembaca membaca tulisan, pada awalnya tergantung pada judul yang disajikan.
Penyajian judul, sebaiknya muncul setelah Anda  dapat mengorganisir gagasan.
            Kriteria yang dapat dijadikan patokan dalam mempertimbangkan suatu judul, yaitu: memiliki nilai memotivasi pembaca, langsung, menarik perhatian pembaca, orsinil, memberi gambaran tentang isi, tidak menyimpang dari masalah, tidak terlalu panjang.

Membuat Kerangka Tulisan
Out line atau sub-sub judul, membantu pada alur berpikir, ia juga akan menguntungkan bagi pemberian keterkaitan bahasan dari awal hingga akhir tulisan

Teknik Menyiasati Awal Tulisan
Untuk membentuk leher tulisan yang menarik perhatian pembaca, Anda  dapat mensiasatinya melalui pemilihan bentuk:
·         Anekdot, pendek namun menggelitik pikiran dan perasaan.
·         Mengejutkan, kalimat atau kata pendek yang merupakan kesimpulan seluruh isi tulisan, dengan dibubuhi tAnda  seru (!)
·         Naratis, uraian situasi pendek.
·         Action, mengajak pembaca untuk melakukan sesuatu.
·         Deskriptif, yaitu penggambaran, umumnya cocok untuk artikel mengenai alam.
·         Percakapan (biasanya dengan menggunakan kata “Anda ”)
·         Ikhtisar (ringkasan),  berupa pAnda ngan selintas.

 Cara Membangun Tubuh Tulisan
Setiap tulisan memiliki komponen yang hampir sama.  Ia memiliki tiga komponen, yaitu: Pendahuluan, isi, dan penutup.
Dalam mengisi ketiga komponen tersebut, Anda  perlu membangunnya dengan alur pikir yang jelas.
Ada beberapa jenis alur pikir yang bisa Anda gunakan dalam membangun sebuah isi atau tubuh tulisan, yaitu: Deduktif, induktif dan alur induktif-deduktif dan deskriptif atau narataif.

Teknik Menyiasati Akhir Tulisan
Anda  perlu ingat bahwa kesan terakhir biasanya akan lebih terkenang.
Untuk itu Anda  dapat membuatnya melalui gaya pilihan yang berwujud: saran atau kesimpulan (jika belum disampaikan di muka) atau harapan/solusi/ bisa juga dengan snaper (gambaran sekilas), seperti”:.. tragis?

Akhir tulisan berbentuk kesimpulan, penulis berkewajiban menjaga agar yang disimpulkannya tetap memelihara tujuan, dan menyegarkan kembali ingatan pembaca tentang apa yang telah dicapai, dan mengapa konklusi-konklusi itu diterima sebagai sesuatu yang logis.

QUR’AN AND BIBLE IN THE LIGHT OF SCIENCE



Dr. Zakir Naik Vs Dr. William Campbell

Sinopsis :
Debat Hebat ini berlangsung di Skokie, Illinois, USA. Dr. Zakir Naik telah bertindak menerima cabaran Dr. William Campbell yang pernah menulis buku menghina Al-Quran bertajuk “The Qur’an and the Bible in the light of History and Science”.
Dalam bukunya “The Qur’an and the Bible in the light of History and Science” Dr.William Campbell menghina Al-Quran dengan mengatakan fakta-fakta di dalamnya bertentangan dengan Sains manakala ayat-ayat Bible menunjukkan fakta sains. Campbell juga menantang Orang Islam untuk menjawab tuduhannya.
Beberapa Kandungan yang menarik dalam Debat ini ialah :
- Pembuktian Al-Quran firman Allah menerusi Sains dan logika akal
- Konsep salah Holy Trinity
- Penyimpangan ajaran Kristian daripada ajaran Nabi Isa AS
- Kandungan Bible yang telah diubah
- Hujah-hujah Dr. William Campbell yang mudah dipatahkan oleh Dr. Zakir Naik
- Pembuktian KeRasulan Nabi Muhammad SAW

Dr Zakir Naik mematahkan hujah-hujah Dr William Campbell menerusi :
- Firman Allah dan Hadis Nabi SAW
- Petikan Ayat-ayat Bible
- Kajian Sains dan Teknologi

Debat ini adalah debat terakhir yang dibuat oleh Dr.Zakir Naik karena
tantangannya kepada pendeta-pendeta agama Yahudi, Buddha, Hindu, Atheis tidak di tanggapi, bahkan pihak Kristian yang di ajak untuk berdebat tentang kebenaran Islam tidak berani lagi disambut selepas itu. 



TRANSNATIONAL TEXTUAL CIRCULATION

Isabel Hofmeyr
The protestant evangelical mission movement can usefully be considered as a pioneer of transnational print mass media. Driven by urgent evangelical imperatives, Protestant mission organizations were responsible for pumping out billions of printed texts to all corners of the globe. In the words of one of its historians, the movement was “the greatest single medium of mass communication in the nineteenth century” (Bradley 1976: 41).
Seen theologically, this activity is not surprising. Evangelicals held that Christ’s “great commission” to spread the gospel formed the core of Christianity. There was an urgent imperative to disseminate Christian ideas to as many people as possible.
Unsurprisingly, one prevalent theme in mission media was that of conspicuous circulation. Mission exhibitions invariably included displays of religius material that had been translated into foreign languages. This translation dramatized the fact that these texts had circulated far and wide. Likewise figures such as the colporteur or Bible woman enacted mission texts in motion. Transport was a trope in mission narratives with ships forming a common thread in mission publicity. Most large mission societies owned sea-going vessels to ferry their personnel about. Such ships provided publicity opportunities in terms of funding drives, stories, pictures, hymns, and poems. The ship became a metaphor of the word itself, sailing out to all corners of the globe.
In the early years of the Protestant mission movement, this belief in conspicuous circulation expressed itself in the widespread notion that the Bible, unaided by human hands, would magically circulate, converting all those it encountered. The early propaganda of the British and Foreign Bible Society (BFBC), founded in 1804, portrayed Bible rather like mini missionaries (Canton 1904: 317). In these parables, text are invested with extraordinary powers of possession and enchantment.
This theory of enchanted reading is particularly clear in relation to a key evangelical genre, the tract. Handbooks on tract distribution and reading portrayed these “noiseless messengers” (USCL 1948: title) as mesmerizing objects. In one account, a man is given a tract that he tears up in a rage and throws down on the carpet, expecting that the servant will sweep it away. The next day, the torn scraps remain. The man summons the servant. She explains the she saw the word eternal on one of the pieces of paper and felt afraid to sweep it away. The man sticks the pieces of torn paper together, reads the tract and is converted (Watts 1934: 8).
On the face of it, this view of textuality may appear unremarkable. Across all religions, sacred texts are assumed to have magical properties: they fall from heaven, they are acquired in dreams, they are dictated by angels. This example would constitute an evangelical Protestant instance of this phenomenon, driven as such ventures were by urgency and fervor.
However, this miraculous circulation also has to be read in terms of technological development on which it depended and at times stimulated. As Lesley Howsam’s history of the BFBS demonstrates, the modernization of the bookbinding industry was precipitated by the BFBS-created demand for Bibles (1991). The BFBS were ever on the lookout for new forms of technology that could provide sturdily bound Bible in the numbers required. By the early nineteenth century, bookbinding was still organized as a small craft industry. Before the 1820s, books were not bound as a matter of course and instead, it was common practice to buy unbound sheets and have theme bound to the customer’s specifications (Howsam 1991: 123).
The book as we know it today, namely as a modern commodity, identically produced in edition bindings, did not fully exist. The organization that helped to bring this practice into being was the BFBS, which required large numbers of books whose bindings could withstand the distances they had to travel. Under the pressure of BFBS production schedules, bookbinding was forcibly shifted from a pre-modern craft to a modern mass-production industry.
A consideration of religius texts in the Protestan mission domain, then, leads us into the heart of modernity itself. One part of this relationship hinges on the ways in which the production and management of Protestant texts acted as a force for modernist innovation. David Nord’s work on the American Bible Society demonstrates how the exigencies of distributing texts across vast distances brought into being modern management practices such as detailed record keeping and statistics (2007: 37-66).
A second aspect of Protestant textual production and modernity is less direct and pertains to the oft-noted way in which modernity, an apparently austere and secular process, in fact feeds off ideas of magic and enchantment. By its own account, modernity is meant to be a universal force of rationality, secularism, and disenchantment. However, as much recent work indicates, this universal rationality is something of an optical illusion. On the one hand, this mirage depends on the trick of passing off a particular European historical experience as universal (Chakrabarty 2000). On the other, modern institutions and their audiences conspire to imbue modernity with magical abilities as a way of making these new institutions intelligible (Murdock 1997). The widely studied phenomena of viewers believing that televisual media are haunted forms part of this process (Sconce 2000). Televisual media portray people who are not there. Rather than mastering the boring mechanical detail of this phenomenon, popular cultural beliefs gloss this process in terms of ghosts and spirits.
The mass production and circulation of Bible captures these processes of enchantment admirably. This development depended on a combination of magical evangelical belief and cutting-edge technology through which identical commodities poured out of bookbinding factories. BFBS publicity insisted this circulation was divinely inspired and at times sought to suppress its mechanical aspects, in one case removing the phrase “printed by machinery” from a BFBS edition (Howsam 1991: 95). More speculatively, we might also ask how Protestant ideas of magical circulation create an environment in which the idea of transnational circulation itself can start to make sense.

Yet, what of the reception of these circulating texts? What did readers in various parts of the world make of Protestant Bibles? To address this issue, we turn to themes of translation.

BAHAYA MAUT DALAM SEMANGKUK MIE INSTANT

         Mie instan merupakan salah satu makanan yang sering dikonsumsi oleh sebagian orang di dunia, mulai dari anak-anak hingga orang dewasa. Biasanya mie instan dikonsumsi karena harganya yang murah dan prosesnya yang cepat dan simple. Namun dibalik rasanya yang enak dan lezat, apakah teman-teman mengetahui bahaya mie instan jika terlalu sering mengkonsuminya setiap hari. Saat ini di indonesia telah banyak produsen yang menyediakan Mie Instan, mulai dari yang sudah eksis sejak puluhan tahun yang lalu seperti PT.Indofood Sukses Makmur dengan produk andalannya Indomie, sampai PT Sayap Mas Utama yang baru beberapa tahun lalu baru meluncurkan produk Mie sedap nya tapi sekarang sudah bisa mengambil hati para penggemar mie instan. 
        Untuk teman-teman yang gemar mengkomsumi mie instan, sebaiknya mulailah untuk mengurangi dan menghindarinya dari sekarang. Karena dibalik kelezatan dan kemudahan dalam mengolahnya, ternyata mie instan mempunyai dampak yang kurang baik bagi kesehatan tubuh. Seperti resiko terkena usus buntu, kanker dan ginjal. Bahaya apa saja yang dapat diakibatkan mie instan bagi kesekatan ? Mari kita simak selengkapnya dalam artikel berikut ini : 
A. Mie Instan Mengandung Lilin
 Mie instan ternyata mempunyai kandungan lilin yang berguna untuk membuat mie merekat satu sama lain. Kandungan lilin tersebut dapat merusak sistem kerja pencernaan tubuh, sehingga dapat menyebabkan gangguan jika dikonsumsi secara terus menerus dan dapat mengakibatkan tumbuhnya sel penyebab kanker. Selain itu tubuh juga akan mengalami kesulitan untuk mencerna zat lilin tersebut. Karena tubuh kita memerlukan waktu sekitar 2 hari untuk mencerna zat lilin yang terdapat pada mie instan. 
B. Mie Instan Mengandung Natrium
 Mie instan mempunyai kandungan natrium tinggi yang dapat memicu timbulnya penyakit hipertensi, maag dan tekanan darah tinggi. Karena natrium tersebut dapat bersifat untuk menetralkan lambung, sehingga lambung akan mensekreasi asam dalam jumlah banyak untuk mencerna makanan. Akibatnya asam lambung menjadi naik dan terjadi pengikisan dinding lambung. Bagi penderita hipertensi, kandungan natrium tersebut cukup berbahaya karena dapat meningkatkan tekanan darah. 
C. Menghambat Penyerapan Nutrisi 
Mie instant akan menghambat dan membatasi penyerapan nutrisi makanan. Terutama mereka yang di usia di bawah 5 tahun, disarankan sama sekali tidak diberi konsumsi mie. Mie ini berbahaya apabila sampai mencegah penyerapan nutrisi. Anak bisa kurang gizi, kerdil dan bahkan perkembangannya lambat. 
D. Menyebabkan Kanker 
Beberapa mie instant dikemas dalam styrofoam, di mana styrofoam adalah agen penyebab kanker. Utamanya mie instant yang hanya disajikan dengan direndam air panas, saat terkena panas, zat kimia di dalam styrofoam ini akan ikut bereaksi. Bayangkan saja bagaimana bila ia ikut larut dan masuk ke dalam tubuh. 
E. Menyebabkan keguguran 
Beberapa kasus keguguran mirisnya disebabkan karena mereka terlalu sering mengonsumsi mie instant. Ternyata mie instant memberikan pengaruh buruk pada janin, sehingga akhirnya keguguranpun terjadi. 
F. Mengacaukan metabolisme tubuh 
Apabila dikonsumsi terus menerus dan dalam jangka waktu yang panjang, maka mie instant dapat mengacaukan metabolisme tubuh. Akumulasi zat kimia berbahaya seperti pengawet dan pewarna akan menjadi racun di dalam tubuh. 
G. Bahayanya Propylene Glycol 
Mie instant mengandung propylene glycol, sejenis bahan anti beku yang akan mencegah mie menjadi kering. Apabila tubuh menyerap zat tersebut maka, ia akan ditumpuk di area hati, ginjal serta liver. Menyebabkan kerusakan pada tubuh, terutama tiga area tersebut kemudian melemahkan immune tubuh. 
H. Bahaya Bagi Pencernaan 
Apabila dikonsumsi lebih dari sekali dalam sehari, maka mie instant berpotensi membahayakan pencernaan. Problem pertama yang muncul adalah rasa begah, susah buang air besar dan ketidaknyamanan. 
I. Kegemukan 
Mengonsumsi mie instant secara rutin juga menyebabkan kegemukan. Jumlah lemak dan sodium yang tinggi di dalam mie instant menyebabkan tidak dapat diserap tubuh dan akan tinggal menumpuk menjadi lemak. Tak heran apabila ia dapat menyebabkan berat badan Anda bertambah dalam waktu singkat. 
J. Kandungan MSG 
Dan Anda perlu khawatir karena kandungan monosodium glutamate dalam mie instant ini cukup tinggi. Mereka yang tidak tahan dan alergi terhadap MSG biasanya akan merasa selalu haus, dada terbakar, sakit kepala, wajah memerah dan nafas sesak. 
K. Kandungan sodium 
Mie instant juga kaya akan kandungan sodium yang dapat menyebabkan darah tinggi, penyakit jantung, stroke dan kerusakan pada ginjal. Terutama jika sering dikonsumsi, potensi terserang penyakit tersebut sangat tinggi. 
L. Mie Instant Juga Junk Food 
Mie instant termasuk junk food yang mengandung karbohidrat sangat tinggi dan tanpa tambahan vitamin, mineral atau serat. Kandungan lemak jenuhnya juga tinggi sehingga kalori di dalamnya memberikan pengaruh buruk bagi kesehatan. 
M. Mie Instan Mengandung Zat-Zat Berbahaya Lainnya 
Bumbu mie, misalnya garam, gula, cabe merah, bawang putih, bawang merah, saus tomat, kecap, vetsin (MSG) serta bahan cita rasa (rasa ayam, rasa udang, rasa sapi) juga banyak menggunakan additive. Belum lagi stirofoam dalam mie cangkir, yang dicurigaipenggorengan ini mie akan mengandung lemak. mie instan memang bahan bakunya adalah tepung, tapi dalam proses pembuatannya juga ditambahkan dengan minyak sayur, garam, natrium polifosfat (pengemulsi, penstabil dan pengental), natrium karbonat dan kalium karbonat (keduanya pengatur keasaman), tartrazine (pewarna kuning). Belum lagi stirofoam dalam mie cangkir, yang dicurigai bisa menyebabkan kanker. 
            Kandungan utama yang lain dari mie adalah karbohidrat kemudian ada protein tepung (gluten), dan lemak, baik yang dari mie nya sendiri maupun minyak sayur dalam sachet. Jika dilihat komposisi gizinya, mie memang tinggi kalori, tapi kurang zat-zat gizi penting lain seperti vitamin, mineral dan serat. 
          Jika agan ingin mie instant bergizi lengkap, perlu ditambahkan sayuran seperti kol, sawi, tomat, brokoli, wortel, atau kecambah, tambahkan juga baso, udang , telor, sosis atau kornet, (wah repot juga nih nyiapinnya). Bahan-bahan tambahan tadi tinggal dimasukkan saat anda merebus mie, yang perlu diingat, sebaiknya hindari konsumsi mie instant setiap hari. jika anda baca dalam kemasan mie instan umumnya terdapat bahan yang bertuliskan MSG atau yang juga dikenal dengan Monosodium Glutamate (MSG), MSG juga biasa disebut vetsin atau michin. dibalik kenikmatan vetsin atau MSG ini, disinyalir berbahaya bagi kesehatan tubuh manusia, terutama kesehatan anak-anak. 
            Artikel kali ini tidak melarang dan membatasi sahabat untuk mengkonsumsi mie instan, namun jika sahabat ingin mengetahui cara dan menasak mie instan dengan benar. Silahkan ikuti cara memasak mie instan berikut ini : 
 Pada saat sedang memasak mie, air rebusan mie tersebut jangan digunakan sebagai kuah mie. 
 Sebaiknya air rebusan pertama mie tersebut di buang, kemudian jika sahabat ingin membuat mie kuah, gunakan air panas/hangat lainnya (air termost) yang tidak tercampur dengan mie pada saat memasak. 
 Atau masak mie instan sambil diaduk-aduk, kemudian buang air rebusan mie tersebut. Setelah itu masak kembali mie dengan air mendidih yang baru dan masak mie hingga matang dan siap untuk diberi bumbu. 
N. Apa Itu MSG (Monosodium Glutamate) 
Jika anda baca dalam kemasan mie instan umumnya terdapat bahan yang bertuliskan MSG atau yang juga dikenal dengan Monosodium Glutamate (MSG), MSG juga biasa disebut vetsin atau michin. dibalik kenikmatan vetsin atau MSG ini, disinyalir berbahaya bagi kesehatan tubuh manusia, terutama kesehatan anak-anak. 
        MSG adalah garam natrium (sodium) dari asam glutamat (salah satu asam amino non-esensial penyusunprotein). MSG umumnya dijual sebagai kristal halus berwarna putih, dan penampakannya mirip gula pasir atau garam dapur. Glutamate adalah asam amino (amino acid) yang secara alami terdapat pada semua bahan makanan yang mengandung protein. Misalnya, keju, susu, daging, ikan dan sayuran. 
          Glutamate juga diproduksi oleh tubuh manusia dan sangat diperlukan untuk metabolisme tubuh dan fungsi otak. Setiap orang rata-rata membutuhkan kurang lebih 11 gram Glutamate per hari yang didapat dari sumberprotein alami. 
           Monosodium Glutamate adalah zat penambah rasa pada makanan yang dibuat dari hasil fermentasi zat tepung dan tetes dari gula beet atau gula tebu. Ketika MSG ditambahkan pada makanan, dia memberikan fungsi yang sama seperti Glutamate yaitu memberikan rasa sedap pada makanan. MSG sendiri terdiri dari air, sodium dan Glutamate. J
           Jika digunakan secara berlebihan, MSG mempunyai efek negatif terhadap tubuh. mengkonsumsi MSG sebanyak 12 gram per hari dapat menimbulkan gangguan lambung, gangguan tidur dan mual-mual. Bahkan beberapa orang ada yang mengalami reaksi alergi berupa gatal, mual dan panas. bukan hanya itu saja MSG juga dapat memicu hipertensi, asma, kanker serta diabetes, kelumpuhan serta penurunan kecerdasan. 
            Sebelum tahun 60-an MSG digunakan golongan masyarakat baik ibu rumah tangga maupun restoran di Cina, Jepang, Korea, Thailand, Vietnam dan Myanmar. Takarannya pun sangat kecil sekali, yakni 1-2 korek kuping (setara dengan 30-60 Mg) untuk setiap porsi masakan ala Cina, mie atau bakso. pangsit. Makanan tradisionel dan lokal asli indonesia tidak menggunakan sama sekali, karena sudah terasa lezat dan gurih oleh ramuan bumbu rempah. Jika anda ingin tahu, sebenarnya untuk jenis masakan indonesia tidak membutuhkan MSG karena sudah banyak banyak yang membuat lezat makanan indonesia, jika anda menambah MSG tentunya itu akan berlebihan. utamanya MSG berfungsi mengintensifkan rasa gurih dari produk daging dagingan. Jadi sangat disarankan menghindari penggunaan MSG yang berlebihan pada masakan ataupun makanan anda, atau anda dapat menggantinya dengan gula atau garam. Jika pun diperlukan pengganti MSG biasanya adalah yeast extract (ekstrak khamir), atau moromi (hasil fermentasi kedele) atau bubuk kecap. Untuk itu, demi kesehatan tubuh kita terutama anak-anak, hindari penggunaan MSG yang berlebihan dalam masakan dan makanan dan sebaiknya mengganti penyedap masakan anda dengan garam dan gula atau tidak memakainya sama sekali. Monosodium Glutamate adalah zat penambah rasa pada makanan yang dibuat dari hasil fermentasi zat tepung dan tetes dari gula beet atau gula tebu. Ketika MSG ditambahkan pada makanan, dia memberikan fungsi yang sama seperti Glutamate yaitu memberikan rasa sedap pada makanan. MSG sendiri terdiri dari air, sodium dan Glutamate.12 gram MSG per hari dapat menimbulkan gangguan lambung, gangguan tidur dan mual-mual. Bahkan beberapa orang ada yang mengalami reaksi alergi berupa gatal, mual dan panas. Tidak hanya itu saja MSG juga dapat memicu hipertensi,asma, kanker serta diabetes, kelumpuhan serta penurunan kecerdasan. Dampak berbahaya lain dari MSG yang tersebut di atas adalah dapat menyebabkan dari penyakit Fibromyalgia. penyakit Fibromyalgia adalah kumpulan rasa nyeri pada hampir seluruh tubuh. Tempat nyeri yang dirasakan banyak sekali dan bisa sampai 18 titik nyeri. 
            Hal tepenting yang harus anda perhatikan “Peringatan bagi kita semua bahwa Mie Instan tidak boleh dimasak bersamaan dengan bumbunya karena MSG yang terkandung didalamnya bila dimasak diatas suhu 120°C akan berpotensi menjadi Karsinogen Pembawa Kanker. Perhatikan prosedur penyajian pada bungkus Mie Instan, semua menganjurkan agar masak mie dulu baru ditaburi bumbu atau bumbunya di taruh di mangkok”

Tuesday, 15 November 2016

MISKOMUNIKASI MAHASISWA DI SEBUAH PERGURUAN TINGGI

Oleh : Halim Setiawan
Perguruan tinggi merupakan kelanjutan pendidikan setelah di sekolah menengah. Pendidikan tersebut diselenggarakan untuk mempersiapkan peserta didik sehingga menjadi anggota masyarakat yang memiliki tingkat keilmuan yang mendalam. Peserta didik yang melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi disebut mahasiswa.
Mahasiswa dalam sebuah perguruan tinggi itu tidak hanya berasal dari daerah setempat melainkan datang dari berbagai daerah. Apalagi perguruan tinggi yang berada di kota-kota besar, mahasiswanya banyak yang berasal dari luar daerah hingga luar provinsi.
Setiap mahasiswa memiliki karakter, budaya dan bahasa masing-masing. Semakin banyak mahasiswanya, maka keanekaragaman juga akan terlihat jelas, sehingga komunikasi yang terbentuk semakin luas. Komunikasi merupakan rangkaian proses pengalihan inforamasi dari satu orang kepada orang lain dengan maksud tertentu, (Tommy Suprapto, 2009: 5).  Komuniksi juga dapat diartikan sebagai proses penciptaan makna antara dua orang atau lebih aktor komunikasi lewat pengguna tanda-tanda.  (Asep Saeful Muhtadi, 2012: 21). Komunikasi yang terbentuk memberikan warna tersendiri kepada setiap mahasiswa. Tidak menutup kemungkinan dengan adanya keanekaragaman tersebut, maka miskomunikasi bisa saja terjadi antar semama mahasiswa maupun antar kelompok mahasiswa. Miskomunikasi tersebut dapat menimbulkan suatu konflik yang berkepanjangan jika tidak segera dinetralisir.
Ketidakpastian makna atau tujuan karena perbedaan konsep atau konsepsi suatu ajaran yang disebabkan oleh kesalahpahaman, perbedaan persepsi, dan perbedaan tujuan akan mengakibatkan terjadinya salah komunikasi (miskomunikasi) bahkan kesenjangan komunikasi (comunication gap), atau sekurang-kurangnya akan terjadi nuansa dari variants yang dapat menimbulkan kebingungan (confusion), frustasi, atau sikap masa bodoh yang disebabkan oleh tidak adanya pengertian. (Jusuf Amir Feisal, 1995: 352).
Miskomunikasi merupakan pesan atau informasi yang disampaikan dan dipahami dengan pengertian yang salah oleh si penerima pesan atau penerima informasi. Sehingga tujuan yang diharapkan dari komunikasi tersebut tidak tercapai.
Miskomunikasi yang terjadi dalam ruang lingkup mahasiswa salah satunya bisa saja disebabkan ketidak pahaman dalam berbahasa, karena beda daerah berbeda juga bahasanya. Sebagai contoh dalam bahasa sunda kata bogoh berarti suka, sayang, dan cinta, sedangkan dalam bahasa melayu khususnya melayu Sambas, bogoh berarti orang yang kuat makan atau orang yang rakus, bogoh juga nama lain dari binatang yaitu luwak. Hanya dikarenakan kurang faham mengenai makna suatu kata dapat menimbualkan suatu konflik. Padahal maksud dari kata tersebut adalah untuk mengungkapkan sutu rasa yaitu rasa suka, cinta, dan sayang.

Bahasa sangat mempengaruhi efektif atau tidaknya suatu komunikasi. Melalui bahasa segala informasi tersampaikan untuk di proses lebih lanjut. Hal tersebut yang perlu di garis bawahi agar miskomunikasi dalam ruang lingkup mahasiswa itu tidak terjadi. Berdasarkan kasus diatas memberikan suatu contoh kepada mahasiswa yang memiliki keanekaragaman budaya maupun bahasa yang terdapat dalam suatu perguruan tinggi, agar selalu menjalin hubungan komunikasi antara satu dengan yang lain. Hargai lawan ketika bicara, karena menghargai dan menghormati lawan bicara akan membuat seseorang cenderung berhati-hati dalam memilih kata dan mengungkapkannya. Informasi yang disampaikan haruslah jelas dan menggunakan bahasa yang dimengerti oleh semua mahasiswa yaitu bahasa Indonesia. Semua itu adalah untuk menjaga agar miskomunikasi tidak akan terjadi, karena komunikasi yang baik adalah awal dari sebuah kesuksesan.

ISLAM INDAH LAYAKNYA PERMATA MUTIARA

Oleh: Halim Setiawan

Islam adalah agama “rahmatan lil ‘alamin” yaitu rahmat bagi sekalian alam. Ajaran yang terkandng di dalamnya menjadikan Islam mudah diterima dan diamalkan oleh pemeluknya. Hal ini dibuktikan islam tumbuh dan berkembang dengan subur hampir seluruh dunia. Bahkan menurut perkiraan badan Pusat Penelitian non-partisan Pew Washington Amarika Serikat yang dirilis pada Kamis (2 April 2015), memprediksikan pada tahun 2050 ke depan, Islam akan mendominasi penduduk di dunia. Hal ini tentunya menjadi bukti bahwa Islam itu merupakan agama yang dapat diterima oleh semua orang di dunia. Sekaligus menjadi bukti bahwa agama Islam itu adalah agama yang benar-benar memberikan rahmat kepada seluruh alam.
Secara umum, Islam memberikan pengajaran yang sangat relevan dengan kondisi sekarang ini. Hal ini dikarenakan substansi ajaran yang terkadung dalam Islam itu sangatlah luas dan lengkap. Bukti keluasan ajaran Islam tersebut jelas sekali terlihat dari hukum yang telah disyari’atkan dalam ajaran agama Islam. Diantaranya  mengenai persolan akidah, bahkan sampai pada persoalan kebersihan. Semua itu telah diatur dalam Islam.
Terkait dengan persoalan-persoalan tersebut, Islam juga sangat terbuka kepada pemeluknya. Misalnya dalam memahami persoalan hukum yang di syariatkan dalam Islam. Umat islam memahami hal tersebut berbeda-beda dan sangat beragam. Sebagai contoh, bagiamana hukumnya menggunakan media elektronik dalam berkhutbah pada hari jum’at?. Sebagian kalangan pemikir baru (modernis) banyak yang mencoba menawarkan untuk setiap khatib menampilkan isi khutbahnya dalam bentuk power point. Tujuannya adalah agar jama’ah tidak tidur atau mengantuk ketika mendengarkan Khutbah Jum’at. Namun, sebagian kalangan pemikir yang mempertahankan paham sebelumnya (tradisionalis)tidak setuju dengan penawaran tersebut. Alasan mereka adalah karena apa yang ditawarkan tidak memiliki dasar hukum dan tidak mengikuti hukum Islam. Tetapi tentu keduanya memiliki argumen yang disertai dengan dalil-dalil yang terdapat dalam sumber hukum Islam.
Terlepas dari perdebatan tersebut, jelas sekali bahwa Islam itu sangatlah memberikan ruang kepada pemeluknya untuk memahami sumber hukumnya. Berawal dari sumber hukum itulah melahirkan pandangan yang berbeda dari berbagai sisinya. Sebagaimana dikatakan oleh M. Quraish Shihab (1996: 3) dalam bukunya wawasan al-Qur’an “al-Qur’an layaknya sebuah permata yang memancarkan cahaya yang berbeda-beda sesuai dengan sudut pandang masing-masing”. Jadi, tidak bisa dikatakan secara pasti bahwa apa yang ditawarkan oleh kalangan modernis salah atau tidak melaksanakan hukum Islam. Demikian juga dengan kalangan tradisionalis tidak bisa dikatakan secara pasti argumen mereka itu adalah salah atau keliru.
Berdasarkan kajian keislaman, perbedaan tersebut bukanlah hal yang harus diperdebatkan karena satu pihak mengkajinya dari sudut pandang antropologis, sedangkan pihak lainnya memandang dari sisi normatif (Ideologis). Dari kedua pandangan tersebut bisa salah juga bisa benar. Oleh sebab itu islam sangatlah indah seperti indahnya mutiara permata yang memancarakn kilauan cahaya.  Itulah bukti bahwa Islam itu sangatlah indah dan relevan dengan waktu, seperti dikatakan bahwa Islam itu “Shalih Li kulli Zaman Wal Makan” yaitu Islam adalah agama yang tidak terbetas oleh ruang dan waktu. Substansi ajarannya tetaplah sempurna mengatarkan pemeluknya kepada al-Shirat al-Mustaqim.