Blue Wings - Working In Background

"Sambas"

Powered By Blogger

GOOGLE FEED BURNER

Enter your email address:

Delivered by FeedBurner

BERDIRI DI UJUNG NEGERI

PERBATASAN INDONESIA-MALAYSIA, TEMAJUK, SAMBAS.

TUGU GARUDA PERBATASAN

TEMAJUK, SAMBAS.

TANJUNG DATOE INDONESIA

INDAHNYA INDONESIA KU, TEMAJUK, SAMBAS.

PERBATASAN INDONESIA-MALAYSIA

BERDIRI DI BATAS NEGERI, TEMAJUK, SAMBAS.

TUGU KETUPAT BERDARAH

SAKSI BISU PERTUMPAHAN DARAH 1999, JAWAI, SAMBAS

Showing posts with label Psychology. Show all posts
Showing posts with label Psychology. Show all posts

Tuesday, 22 November 2016

Konsep Kekerasan Menurut Galtung


     1.    Pengertian Kekerasan
Secara etimologis kekerasan adalah tindakan atau kebijakan/ keputusan apapun yang disertai penggunaan kekuasaan/ kekuatan. Sedangkan secara terminologis kekerasan adalah suatu tindakan yang bertujuan untuk menyakiti seseorang dengan jalan yang bertentangan dengan hukum dengan tujuan yang buruk.[1] Konsep kekerasan seringkali juga diterapkan untuk menandai kebijakan atau pertentangan dengan moral misalnya pembunuhan, pemerkosaan dan lain sebagainya. Kekerasan menurut Johan Galtung adalah kekerasan terjadi bila manusia dipengaruhi sedemikian rupa sehingga realisasi jasmani dan mental aktualnya berada di bawah realisasi potensialnya Kekerasan di sini didefinisikan sebagai penyebab perbedaan antara yang potensial dan yang aktual.
Konsep kekerasan menurut Johan Galtung menciptakan tiga dimensi kekerasan. Galtung menciptakan tiga tipe ideal kekerasan, yaitu kekerasan struktural, kultural, dan langsung.[2] Dan kekerasan langsung sering kali didasarkan atas penggunaan kekuasaan sumber (resourse power). Kekuasaan sumber bias dibagi menjadi kekuasaan punitif, yaitu kekuasaan yang menghancurkan, kemudian kekuasaan Ideologis dan kekuasaan ideologis . Kekuasaan Ideologis dan renumatif cenderung menciptakan kekerasan kultural.
Sedangkan kekuasaan struktural tercipta dari penggunaan kekuasaan struktural, seperti orang yang memiliki wewenang menciptakan wewenang publik. Kekuasaan  sumber dan kekuasaan struktural saling berkaitan, saling memperkuat. Galtung mengungkapkan kekerasan struktural, kultural, dan langsung dapat menghalangi pemenuhan kebutuhan dasar ini adalah kelestarian atau keberlangsungan hidup, kesejahteraan, kebebasan, dan identitas. Jika empat kebutuhan dasar ini mengalami tekanan atau kekerasan dari kekuasaan personal dan struktural, maka konflik kekerasan akan muncul kepermukaan sosial.
a.    Kekerasan Struktural
Menurut Galtung ketidak adilan yang diciptakan oleh suatu sistem yang menyebabkan manusia tidak mampu memenuhi kebutuhan dasarnya (human needs) merupakan konsep kekerasan struktural (structural violence).[3] Kekerasan model ini dapat ditunjukkan dengan rasa tidak aman karena tekanan lembaga-lembaga militer yang dilandasi oleh kebijakan politik otoriter, pengangguran akibat sistem tidak menerima sumber daya manusia di lingkungannya, diskriminasi rasa atau agama oleh struktur sosial atau politik sampai tidak adanya hak untuk mengakses pendidikan secara bebas dan adil juga, manusia mati akibat kelaparan, tidak mampu mengakses kesehatan adalah konsep kekerasan struktural.
Contoh dalam sejarah Indonesia, pemerintah kolonial Belanda tidak pernah memberikan hak pendidikan dan masyarakat pribumi. Hanya kalangan tertentu dari penduduk pribumi yang bias mengakses sekolah, yaitu golongan bangsawan yang memiliki tanah-tanah perkebunan dan bekerja sama dengan pemerintah kolonial.
b.    Kekerasan Langsung
Kekerasan (direct violence) dapat dilihat pada kasus-kasus pemukulan seseorang terhadap orang lainnya dan menyebabkan luka-luka pada tubuh. Suatu kerusuhan yang menyebabkan orang atau komunitas mengalami luka-luka atau kematian dari serbuan kelompok lainnya juga merupakan kekerasan langsung. Ancaman atau teror dari satu kelompok yang menyebabkan ketakutan dan trauma psikis juga merupakan bentuk kekerasan langsung.
Kekerasan langsung terjadi dalam konflik antara etnis Dayak dan Madura di Kalimantan Barat tahun 1999,[4] seperti di Pontianak dan Sambas, ditandai dengan terbunuhnya banyak sekali manusia, dirusaknya harta benda yang ada dipengusiran etnis dari tempat tinggalnya. Kekerasan langsung pada kasus konflik etnis Dayak dan Madura bisa dilakukan kedua belah pihak pada awalnya. Tetapi kekuatan fisik yang tidak berimbang, seperti peralatan dan jumlah massa, pada gilirannya membuat salah satu etnis telah melakukan kekerasan langsung terhadap etnis yang lain.
c.  Kekerasan Budaya
Kekerasan budaya bias disebut sebagai motor dari kekerasan struktural dan langsung, karena sifat budaya bias muncul pada dua tipe kekerasan tersebut. Kekerasan budaya (Cultural violence), di lihat sebagai sumber lain dari tipe-tipe konflik melalui produk kebencian, ketakutan dan kecurigaan.
Sumber Kekerasan budaya ini biasa berangkat dari etnesitas, agama maupun ideologi. Galtung menekankan makna kekerasan budaya yang dimaksud bukan untuk menyebut kebudayaan sebagai keseluruhan sistemnya, namun aspek-aspek dari kebudayaan itu. Galtung memberikan definisi kepada kekerasan budaya adalah aspek-aspek dari kebudayaan; ruang simbolis dari keberadaan masyarakat manusia dicontohkan oleh agama dan ideologi, bahasa dan seni, ilmu pengetahuan, empiris dan formal (logis), matematis, yang bisa digunakan untuk menjustifikasi atau melegatimasi kekerasan struktural dan langsung.[5]
d.   Kekerasan Model Litke
Alternatif persefektif dalam tipe kekerasan adalah model yang diciptakan oleh Robert F. Litke. Litke dalam tulisan Violence and Power (1992) membuat skema definisi kekerasan pada dimensi fisik-psikologis, dan personal-institusional. Kekerasan yang dilakukan secara personal bisa berwujud dalam dimensi fisik dan psikologis. Kekerasan personal seperti muggings, pemerkosaan dan pembunuhan merupakan aksi fisik, sedangkan pada dimensi psikologis kekerasan personal muncul dalam bentuk paternalisme, ancaman personal dan pembunuhan karakter. Kekerasan institusional (terlembagakan) yang muncul dalam bentuk aksi fisik bisa berupa kerusuhan, terorisme dan perang, sedangkan secara psikologis muncul dalam bentuk perbudakan, rasisme, dan sexist.
2.      Macam-Macam Kekerasan
a.       Kekerasan struktural, yaitu kekerasan yang tidak adanya keadilan yang diciptakan oleh suatu sistem yang menyebabkan manusia tidak mampu memenuhi kebutuhan dasarnya.[6]
b.      Kekerasan Kultural, yaitu kekerasan yang sebab maupun timbulnya bisa ditelusuri melalui aspek-aspek, budaya, wilayah, simbolis, eksistensi kita, diwakili oleh agama dan ideologi, bahasa dan seni, ilmu pengetahuan empiris dan ilmu pengetahuan formal.[7]
Sebuah perbuatan, atau prilaku sosial bisa dikatakan sebagai kekerasan. Ada pun menurut Galtung ada beberapa dimensi dalam kekerasan:
1)      Perbedaan antara kekerasan fisik dan kekerasan psikologis.
2)      Pendekatan negatif dan positif terhadap pengaruh.
3)      Terletak pada segi obyek.
4)      Terletak pada subyek.
5)      Antara kekerasan yang disengaja dengan kekerasan yang tidak disengaja.
6)      Perbedaan tradisional, diantara dua tingkat kekerasan, yakni kekerasan nyata dan kekerasan tersembunyi.
3.      Faktor-Faktor Kekerasan Politik
M Enoc. Markum, yang membagi penyebab terjadinya kekerasan ada lima, yaitu :
a.    Kondisi kritis sangat benar-benar terjadi, dalam suatu wilayah tertentu, sehingga muncul kekerasan.
b.    Keyakinan masyarakat luas bahwa saluran formal yang seharusnya dapat menampung dan diandalkan untuk menyelesaikan masalah dan aspirasi masyarakat tidak berfungsi dengan semestinya.
c.    Harapan yang diyakini oleh masyarakat bahwa melahirkan kekerasan, dapat menimbulkan perubahan.
d.    Hilangnya wibawa ABRI di mata masyarakat.
e.    Crowding.
Sedangkan Arbi Sanit menyebutkan bahwa sebab terjadinya kekerasan dari dalam yaitu :[8]
a.    Perasaan tertekan di kalangan masyarakat yang berasal dari kombinasi diantara peningkatan harapan (aspirasi) dengan melebarnya jurang (gap) di antara kebutuhan dan pelayanan publik.
b.    Belum terlembaganya kehidupan politik secara memadai.
c.    Rendahnya standar ekonomi yang ditandai oleh ketidak berimbangan pemberlakuan publik (cara politik).
d.   Ketidakseimbangan distribusi sumber daya, dan ketidak berimbangan pemenuhan hak dalam masyarakat.
4.  Sumber-Sumber Kekerasan
Menurut I Marsana Windu, sumber sumber kekerasan antara lain:
a.    Watak Manusia yang Keras
Manusia merupakan makhluk yang bersegi jasmani (raga) dan rohani (jiwa). Dilihat dari segi rohani manusia terbagi menjadi pikiran dan perasaan. Apabila keduanya diserasikan akan menghasilkan kehendak yang kemudian menjadi sikap tindak. Sikap tindak itulah yang kemudian menjadi landasan gerak segi jasmani manusia.[9]
Secara sosiologis, kepribadian seseorang didapat melalui proses sosialisasi yang dimulai sejak kelahirannya. Pada tahap itu, dia mulai mempelajari pola-pola perilaku yang berlaku dalam masyarakatnya dengan cara mengadakan hubungan dengan orang lain. Di mulai dari keluarga, dan lambat laun mulai dapat membedakan dirinya dengan orang lain yang berada di sekitarnya. Secara bertahap dia akan mempunyai konsep tentang dirinya sendiri yang didasarkan pada dugaan tentang pendapat orang-orang perihal dirinya. Kesadaran akan dirinya sendiri dapat diamati dari tingkah laku anak tersebut dalam permainan, mungkin terhadap alat-alat permainan, mungkin pula terhadap teman-teman sepermainannya. Sifat tersebut makin lama makin berkembang dengan bertambah dewasa individu tersebut.
Ditengah perkembangan kehidupan yang keras, maka akan mustahil jika tidak memunculkan perkembangan watak manusia yang keras pula, karena terbentuknya watak manusia itu salah satunya dipengaruhi oleh lingkungan sekitarnya.[10] Seorang individu, selain memiliki ciri-ciri watak secara umum, namun individu jga memiliki ciri-ciri wataknya sendiri. Sedangkan pembentuk watak dalam jiwa seseorang banyak dipengaruhi pergaulannya di masa kecil.
b.    Struktural yang Tidak Adil
Sebuah kekerasan bisa juga didukung oleh ketidak adilan struktural. Secara sosiologis, struktur masyarakat tersusun atas perbutan manusia dan bukan alam Stuktur sosial, atau juga biasa disebut sebagai stratifikasi sosial, sangat penting, karena mengakibatkan masyarakat dapat mengatasi keterbatasan-keterbatasan individu. Akan tetapi pada akhirnya, stratifikasi menimbulkan adanya kelas dan status. Kelas dan status biasanya terbentuk atas dasar tingkat kehormatan yang dimiliki oleh individu.
Status biasanya diidentifikasi oleh posisi dan jabatan yang dimiliki oleh seseorang. Sedangkan kelas lebih merujuk kepada tingkat kepemilikan harta dan properti oleh individu. Orang dengan kelas dan status tertentu cenderung berbagi pola dan mode perilaku. Kelas dan status dibentuk oleh kesamaan-kesamaan yang dimiliki oleh masing-masing individu dengan kelas atau status yang sama. Ketidak adilan struktural dapat terjadi bila orang-orang dalam kelas atau status yang sama membentuk aliansi guna mendominasi sistem ekonomi atau politik masyarakat.




[1] Eka Henry, Sosiologi Konflik, ( Pontianak: Anggota Ikapi, 2009), hlm 51
[2] Novri Susan, Sosiologi Konflik . . . hlm 110.
[3] Ibid, khlm 111.
[4] Ibid, hlm 114.
[5] Ibid, hlm 115.
[6]Johan Galtung, “Kekerasan, Perdamaian, dan Penelitian Perdamaian”, dalam Mochtar Lubis, Menggapai Dunia Damai, (Jakarta : Yayasan Obor Indonesia, 1988), hlm 150.
[7] Johan Galtung, “Kekerasan Kultural” dalam Wacana Kekerasan dalam Masyarakat Transisi,(Yogyakarta : Insist, Edisi IX, 2002), hlm 11.
[8] Ibid
[9] Soerjono Soekanto, Sosiologi Pengantar, (Jakarta : Rajawali Pers, Cet IV, 1990), hlm 127.
[10] Koentjaraningrat, Pengantar Antropologi, (Jakarta ; Rineka Cipta, 1996), hlm 108.

Friday, 18 November 2016

AGAMA DAN KESEHATAN MENTAL


1.      Manusia dan Agama
Manusia adalah mahluk yang serba unik, dengan keunikannya mejadi kan manusia sebagai mahluk yang rumit dan misterius,[1] artinya dari ungkapan ini bahwa manusia adalah mahkluk yang memiliki kriteria-kriteria serta sifat-sifat yang berbeda dari yang lainnya. Manusia itu mahluk ang rumit dan misterius karena akal, pikiran dan apa yang sedang dipikirkan nya tidak bisa untuk di tebak oleh manusia lainnya.
“ Sebenarnya manusia telah mencurahkan perhatian dan usaha yang sangat besar untuk mengetahui dirinya, meskipun kita memiliki perbendarahaan yang cukup banyak dari hasil penelitian para ilmuan, filsuf, sastrawan dan ahli kerohanian sepanjang masa ini. Tetapi kita hanya mampu mengetahui beberapa segi tertentu dari diri kita.
Kita tidak mengetahui manusia secara utuh. Yang kita ketahui hanyalah bahwa manusia terdiri dari bagian-bagian tertentu, dan ini pun hakikatnya di bagi lagi menurut tata cara kita sendiri. Pada hakikatnya pertanyaan-pertanyaan yang diajukan mereka yang mempelajari manusia kepada diri mereka hingga kini masih tanpa jawaban”.[2]
Ungkapan ini bermaksud  bahwa kita sebagai manusia tidak bisa untuk mengetahui diri sendiri sepenuhnya, kita hanya dapat mengetahui diri sendiri pada bagian-bagian yang tertentu saja karena yang mengetahui semuanya adalah yang menciptakan kita. Jadi pertanyaan-pertanyaan tentang diri sendiri tidak bisa di jelaskan sampai sekarang dan bahkan kapanpun.
Kajian mengenai manusia memang belum tuntas. Dan mungkin tidak akan tuntas, tetapi dari khazanah kajian dimaksud setidaknya terungkapkan bahwa manusia adalah mahluk multidimensi.
Berangkat dari konsep fitrah, hubungan manusia dengan agama berdasarkan adanya kerinduan dalam diri manusia. Ia membagi kerinduan menjadi kerinduan jasmani dan kerinduan rohani.
Manusia secara etik, menjunjung tinggi kebaikan, kemuliaan, altruism, ataupun pengorbanan, dan menganggapnya sebagai nilai-nilai luhur. Kerinduan ini menjadikan manusia untuk mencari dan menemukan nilai-nilai luhur hakiki. Artinya kerinduan seperti ini lah yang dibutuhkan, kerinduan ini bisa diartikan sebagai sebuah ibadah seseoarang kepada yang maha kuasa, kerinduan ini sangat sulit untuk didapatkan karena ia berkaitan dengan ibadah. Kebanyakan manusia sangat sulit untuk melakukan ibadah-ibadah, meskipun tidak lah sesulit yang dikiranya.
Hubungan agama merupakan hubungan yang bersifat  kodrati. Agama itu sendiri menyatu dalam fitrah penciptaan manusia. Pendapat yang sudah ektrem tentang masalah itu pun masih menunjukkan betapa agama sudah dinilai sebagai bagian dari kehidupan manusia yang erat keterkaitannya dengan gejala psikologis. Jadi agama dalam kondisi diatas sangat terkait dengan manusia serta psikologis setiap manusia dan manusia tidak bisa lepas darinya.
Agama merupakan suatu bentuk rasa takut kepada Tuhan, dan secara psikologis agama adalah ilusi manusia atau bisa disebut sebagai khayalan manusia. Manusia lari kepada agama karena ketidakmampuannya dalm menghadapi becana atau suatu masalah. Segala bentuk prilaku keagamaan merupakan ciptaan manusia yang timbul supaya dirinya terhindar dari bahaya dan dapat memberikan rasa aman. Untuk keperluan itu manusia menciptakan Tuhan dalam pikirannya.
Agama sudah memang tak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia. Ketidak setujuannya manusia terhadap agama mungkin disebabkan oleh faktor-faktor tertentu baik oleh kepribadian maupun lingkungan manusia. Namun, untuk menutupi dan membuang rasa keagamaan sangat lah sulit dilakukannya. Manusia mempunyai unsure batin yang lebih untuk tunduk kepada dzat yang ghaib. Ketundukan ini adalah bagian dari faktor intern manusia yang dalam psikologi kpribadiaan disebut hati nurani atau pribadi seseoarang.
Agama sebagai fitrah manusia telah diinformasikan dalam al-qur’an:
“ maka hadapkan lah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah); tetaplah atas fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan terhadap fitrah Allah (itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahuinya. (Q.S 30:30).
Manusia di ciptakan Allah mempunyai naluri beragama yaitu agama tauhid. Kalau ada manusia tidak beragama tauhid, maka hal itu tidak wajar. Mereka tidak beragama tauhid itu hanyalah lantaran pengaruh lingkungan.
Artinya manusia diciptakan Allah memiliki naluri tauhid, dan Allah itu bersifat tauhid, tapi banyak manusia yang tidak tahu akan ketauhidan nya itu.      
2.      Agama dan Pengaruhnya terhadap Kesehatan Mental
Kesehatan mental adalah ilmu yang meliputi sistem-sistem tentang prinsip-prinsip, peraturan-peraturan serta prosedur-prosedur untuk mempertinggi kesehatan rohani.[3] Kesehatan mental juga bisa diartikan bahwa suatu kondisi batin yang senantiasa berada dalam keadaan tenang, aman dan tentram, dan upaya untuk menemukan ketenangan batin[4] dapat dilakukan antara lain melalui penyesuaian diri secara resignasi[5]. Jadi kesehatan mental adalah kondisi batin yang dalam keadaan sehat tidak ada gangguan dari apaun.
Orang yang sehat mentalnya ialah orang yang dalam rohani atau dalam hatinya selalu tenang, aman dan tentram. Dalam ilmu kedokteran dikenal istilah psikosomatik (kejiwabadanan). Di maksudkan dengan istilah tersebut adalahuntuk menjelaskan bahwa terdapat hubungan yang erat antara jiwa dan badan. Jika jiwa berada dalam kondisi yang kurang normal seperti susah, cemas, gelisah, dan sebagainya, maka badan turut menderita.
Di dalam tubuh manusia terdapat Sembilan jenis kelenjar hormon yang memproduksi persenyawaan-persenyawaan kimia yang mempunyai pengaruh biokimia tertentu, disalurkan lewat pembuluh darah dan selanjutnya memberi pengaruh kepada eksistensi dan berbagai-bagai kegiatan tubuh. Persenyawaan-persenyawaan itu di sebut hormon.
Hubungan antara kejiwaan dan agama dalam kaitannya dengan hubungan antara agama sebagai keyakinan dan kesehatan jiwa, terletak pada sikap penyerahan diri seorang terhadap suatu kekuasaan yang maha tinggi. Sikap pasrah yang serupa itu di duga akan member sifat optimis pada diri seseorang sehingga muncul perasaan positif seperti rasa bahagia, rasa senang, puas, sukses, merasa dicintai atau rasa aman. Sikap emosi yang demikian merupakan bagian dari kebutuhan asasi manusia sebagai makhluk yang ber-Tuhan. Maka, dalam kondisi yang serupa itu manusia berada dalam keadaan tenang dan normal, berada dalam keseimbangan persenyawaan kimia dan hormone tubuh. Dengan kata lain, kondisi yang demikian menjadi manusia pada kondisi kodratinya, sesuai dengan fitrah kejadiannya, sehat jasmani, dan rohani. [6]
Salah satu cabang ilmu jiwa, yang tergolong dalam psikologi Humanistika di kenal logoterapi[7].
Logoterapi menunjukkan tiga bidang kegiatan yang secara potensial member peluang kepada seseorang untuk menemukan makna hidup bagi dirinya sendiri. Ketiga kegiatan itu adalah :
a.       Kegiatan berkarya, bekerja, dan mencipta, serta melaksanakan dengan sebaik-baiknya tugas dan kewajiban masing-masing.
b.      Keyakinan dan penghayatan atas nilai-nilai tertentu ( kebenaran, keindahan, kebajikan, keimanan dan lainya).
c.       Sikap tepat yang diambil dalam keadaan dan penderitaan yang tidak bisa dihindari  lagi.
Hubungan antara kejiwaan dan agama dalam kaitannya dengan hubungan antara agama sebagai keyakinan dan kesehatan jiwa, terletak pada sikap penyerahan diri seorang terhadap suatu kekuasaan Yang Maha Tingg.[8]
Kehilangan makna hidup begitu besar pengaruhnya terhadap perubahan prilaku manusia. Kecanggihan Iptek bukan menjadikan manusia sebagai berperadaban, tetapi semangkin biadap. Naluri kemanusiaan berubah jadi naluri kebinatangan. Kekerasan muncul, baik dalam bentuk nyata, ataupun dalam bentuk imajinasi. Siapa kuat, dialah yang menang. Bagi yang tak kuat menanggung derita batin ini terpaksa mencari jalan sendiri. Yaitu bunuh diri.
Kehilangan makna hidup menyebabkan manusia mencari jalan sendiri-sendiri. Bertualang tanpa arah, terus mencari, siapa dan apa pun yang di duga mampu menawarkan obat penawar kesepian batin akan dihampiri. Berlindung dibawah manusia mistik, mencoba melabuhkan diri digemerlap hidup selebritis, berhura-hura di suasana klub malam, ataupun mengonsumsiminuman keras. Batin manusia modern bagaikan terpengaruhi oleh produk teknologi hasil rekayasa mereka sendiri, sangat ironis sekali.
Padahal sang Maha Pencipta sudah mewanti-wanti hal itu. Di kala manusia melupakan Sang Maha Pencipta dan kehilangan kesadarannya, kehidupannya jadi hampa. Ketentraman batin tersaput, hidup tanpa makna. Menjauhkan diri dari sang pencipta, berarti mengosongkan diri nilai-nilai imani, sungguh merupakan kerugian terbesar bagi manusia selaku makhluk berdimensi spiritual..


3.       Karakteristik Mental yang Sehat
a.       Dapat menyesuaikan diri
Penyesuian diri harus lah bisa kita lakukan karena apabila kita pergi ke tempat lain kita bisa berkomunikasi dengan baik dan juga kesehatan mental kita akan menjadi sehat karena kita sudah dapat menyesuiankan diri kita dimana pun kita berada.
b.      Terhindar dari gangguan jiwa
Gangguan jiwa artinya suatu masalah yang kita hadapi dan sangat sulit untuk diselesai kan, jika kita terhindar dari suatu masalah yang membuat kita menjadi permasalah yang sangat berat, maka kita akan memiliki mental yang sehat, tidak ada gangguan apapun.
c.       Memanfaatkan potensi semaksimal mungkin
Jika kita memiliki sesuatu potensi maka, jangan malu untuk menampilkannya, kita harus memanfaatkan pontensi tersebut dengan sebaik mungkin, jika tidak akan mengganggu kesehatan mental kita.
d.      Tercapai kebahagian pribadi dan orang lain
Kebahagian sangat lah penting bagi semua orang, semua orang pastinya ingin bahagia, tetapi tidak semua orang yang mendapatkan kebahagian yang ia cari. Jadi jika seseorang sudah tercapai kebagiannya maka ia akan memiliki mental yang sehat. [9]
Karakteristik pribadi yang sehat mental nya juga bisa dilihat dari aspek pribadi. Yang pertama adalah melalui fisiknya yaitu perkembangannya normal, berfungsi untuk melakukan tugas-tugasnya dan sehat, tidak sakit-sakitan. Yang kedua adalah melalui psikis yaitu respek terhadap diri sendiri dan orang lain, memiliki insight dan rasa humor, memiliki respons emosional yang wajar, mampu berpikir realistic dan objektif, terhindar dari gangguan-gangguan psikologis, bersifat kreatif dan inovatif, bersifat terbuka dan fleksibel, tidak difensif, dan memilki perasaan bebas untuk memilih, menyatakan pendapat dan bertindak. Yang ketiga adalah melalui sosial, yaitu memiliki perasaan empati dan rasa kasih sayang terhadap orang lain, serta senang untuk memberikan pertolongan kepada orang-orang yang memerlukan pertolongan,  mampu berhubungan dengan orang lain secara sehat, penuh cinta kasih dan persahabatan, dan bersikap toleran dan mau menerima tanpa memandang kelas sosial, tingkat pendidikan, agama, politik, suku, ras, atau warna kulit. Yang terakhir adalah Moral religious yaitu beriman kepada Allah dan taat mengamalkan ajaran-Nya dan jujur, amanah, ikhlas dalam beramal.   
4.      Ciri-Ciri Kesehatan Mental
Pada abad 17 kondisi suatu pasien yang sakit hanya diidentifikasi dengan medis, namun pada perkembangannya pada abad 19 para ahli kedokteran menyadari bahwa adanya hubungan antara penyakit dengan kondisi dan psikis manusia. Hubungan ini menyebabkan adanya timbale balik antara satu sama lain.
Memasuki abad 19 konsep kesehatan mental mulai berkembang dengan pesatnya namun apabila ditinjau lebih mendalam teori-teori yang berkembang tentang kesehatan mental masih bersifat sekuler, pusat perhatian dan kajian dari kesehatan mental tersebut adalah kehidupan di dunia, pribadi yang sehat dalam menghadapi masalah dan menjalani kehidupan hanya berorientasi pada konsep sekarang ini dan disini, tanpa memikirkan adanya hubungan antara masa lalu, masa kini dan masa yang akan datang.
Solusi terbaik untuk dapat mengatasi masalah-masalah kesehatan mental adalah dengan mengamalkan nilai-nilai agama dalam kehidupan sehari-hari, kesehatan mental seseorang dapat ditandai dengan kemampuan orang tersebut dalam penyesuaian diri dengan lingkungannya, mampu mengembangkan potensi yang terdapat dalam dirinya sendiri semaksimal mungkin untuk menggapai ridho Allah SWT, serta dengan mengembangkan seluruh aspek kecerdasan, baik kesehatan spiritual, emosi maupun kecerdasan intelektual.
Mental yang sehat tidak akan mudah terganggu oleh pemikiran yang stress orang yang memiliki mental sehat berarti mampu menahan diri dari tekanan-tekanan yang datang dari dirinya sendiri dan lingkungannya. Ciri-ciri orang yang memilki kesehatan mental adalah Memilki kemampuan diri untuk bertahan dari tekanan-tekanan yang datang dari lingkungannya[10].
5.      Efek Agama pada Kesehatan Mental dan Fisik
Berdasarkan penelitian bahwa agama tidak lah berpengaruh yang tidak baik bagi kesehatan mental dan fisik
a.       Efek pada kesehatan mental
Agama merupakan fator penting yang berupaya untuk mengatasi suasana hidup yang penuh dengan gangguan, agama juga dapat meramalkan siapa yang mendapatkan defresi. Dalam menghadapi sikap yang tak terhindar lagi bagi kondisi, menurut logo terapi, maka ibadah merupakan salah satu cara yang dapat digunakan untuk membuka pandangan seorang akan nilai-nilai potensial dan makna hidup yang terdapat dalam diri dan sekitarnya.
Sejumlah kasus yang menunjukan adanya hubungan antara faktor keyakinan (agama) dengan kesehatan jiwa (mental) tampaknya sudah disadari para ilmuan beberapa abad yang lalu.
b.      Efek pada kesehatan fisik
Seseorang yang berkeyakinan atau beragama apabila terserang penyakit, lebih cepat sembuhnya dari pada yang tidak beragama atau tidak mempunyai keyakinan. Do’a penyembuhan terbukti menimbulkan tanggapan positif dari kalangan masyarakat luas dan memang   terbukti bisa menyembuhkan.[11]



6.      Terapi Keagamaan
Orang yang tidak merasa tenang, aman serta tentram dalam hatinya adalah orang yang sakit rohani atau mentalnya,[12] manusia mempunyai kebutuhan-kebutuhan dasar tertentu, tetapi tak jarang di jumpai bahwa seseorang tak mampu menahan keinginan bagi terpenuhnya kebutuhan dirinya. Dalam kondisi seperti itu akan terjadi pertentangan (konflik) dalam batin. Pertentangan ini akan menimbulkan ketidakseimbangan dalam kehidupan rohani, yang dalam kesehatan mental disebut kekusutan rohani. Kekusutan rohani seperti ini disebut kekusutan fungsional.
Usaha pengulangan kekusutan rohani atau mental ini sebenarnya dapat dilakukan sejak dini oleh yang bersangkutan. Penyelesaian dengan memilih penyesuain diri dengan norma-norma moral yang luhur seperti bekerja dengan jujur, resignasi, sublimasi, dan kompentasi. Pendekatan terapi keagamaan ini dapat dirujuk dari informasi al-Qur’an sendiri sebagai kitab suci.
Didalam al-Qur’an sebagai dasar dan sumber ajaran Islam banyak ditemukan ayat-ayat yang berhubungan dengan ketenangan dan kebahagiaan jiwa sebagai halyang prinsipil dalam kesehatan mental. Ayat tentang kebahagiaan salah satunya tedapat dalam surat Al-Qashash ayat 77 yang artinya “dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) duniawi dan berbuat baik (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu dan jangan kamu membuat kerusakan di(muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan (QS Al-Qashash:77)
Dalam ayat ini Allah memerintahkan orang Islam untuk merebut kebahagiaan akhirat dan kenikmatan dunia dengan jalan berbuat baik dan menjauhi perbuatan munkar. Keimanan, ketakwaan, amal soleh, berbuat yang makruf, dan menjauhi perbuatan keji dan munkar adalah merupakan factor penting dalam usaha pembinaan kesehatan mental.
   
7.      Kematian
kata mati dan kematian sebenarnya sudah sangat akrab dengan teliga manusia. Setiap orang pasti akan mengalaminya. Menjumpai kematian. Namun, manakala masih berada dalam kenikmatan hidup, manusia sering melupakan dengan kematian. Sebaliknya, bila usia semangkin sepuh atau didera sakit, maka baying-bayang kematian mulai muncul. Secara psikologis, turut mempengaruhi sikap dan prilaku manusia.
a.       Kematian dalam Agama
Setiap agama mengajarkan tentang adanya hari kebangkitan. Alam baru dalam kehidupan lain yang akan dialami oleh manusia mati. Dipercayai bahwa pada saat itu manusuia akan dihidupkan kembali guna diminta pertanggungjawabannya. Perbuatan baik akan memperoleh ganjaran kenikmatan hidup surgawi. Sebaliknya, perbuatan buruk akan diganjar dengan hukuman berupa siksaan neraka. Oleh karena itu, hari kebangkitan ini juga disebut sebagai hari pembalasan.
Kemudian dalam ajaran Islam, hari kebangkitan merupakan bagian dari rukun ima. Mengenai hari kebangkitan ini dikemukakan oleh Abul A’la al-Maududi: “ Yang wajib kita beriman kepadanya mengenai hari itu, ialah:
1)      Bahwa Allah akan menghapus semesta ala mini dan sekalian makhluk yang ada didalamnya pada suatu hari yang dikenal dengan hari kiamat.
2)      Kemudian Allah SWT akn menghidupkan mereka kembali sekali lagi dan mengumpulkan mereka di hadapan-Nya. Itu adalah mahsyar atau hari kebangkitan.
3)      Kemudian segala sesuatu yang diperbuat manusia, yang baik dan yang buruk dalam kehidupan dunia mereka, diajukan kepada pengadilan Allah SWT. Tanpa dikurangi dan tanpa dilebihkan.
4)      Allah SWT menimbang bagi tiap-tiap orang dari manusia akan perbuatannya yang baik dan yang buruk. Barangsiapa yang lebih berat dari timbangan perbuatan-perbuatannya yang baik, maka dia diampuni-Nya dan barang siapa yang lebih berat dari timbangan perbuatan-perbuatannya yang buruk, maka ia disiksa-Nya.    
b.      Psikologis kematian 
Secara psikologis, manusia usia lanjut terbebankan oleh rasa ketidakberdayaan. Kelemahan fisik, keterbatasan gerak, dan menurunkan fungsi alat indera, menyebabkan manusia usia lanjut merasa terisolasi mulai terasa adanya kekosongan batin.
Kekosongan batin akan kian terasa bila dihadapkan peristiwa-peristiwa kematian. Terutama bila dihadapkan pada kematian-kematian orang-orang yang terdekat atau paling di cintai.