Kesultanan Sambas seperti yang disebutkan oleh Pabali Musa
bila ditinjau berdasakan Salsilah didirikan
pada tanggal 10 Dzulhijjah tahun 1040 M.[1]
Namun menurut Machrus Effendy bahwa kesultanan Sambas berdiri sekitar tahun
1612 M.[2]
Tetepi belum ada kesepakatan para sejarawan Sambas tentang tahun masehi
berdirinya kesultanan Sambas. Apabila dikonversi dalam tahun masehi, maka sekitar
tahun 1630 M.
Nama kesultanan Sambas menurut Raden Muchin Panji Anom
Pangeran Temenggung Jaya Kesuma (kerabat kerajaan), dalam laporan tentang
“Kontrol dan riwayat Raja-raja Sambas” tanggal 5 Januari 1951 menyebutkan
tentang nama Kesultanan Sambas sebagai berikut: “Menurut riwayat yang tercantum
di lembaran Kitab Sejarah, kerajaan bahwa raja-raja di Kerajaan Sambas
berasal-usul dari pancaran negeri tiga serangkai yakni Brunai, Sukadana dan
Sambas di masa pemerintahan Majapahit”.[3]
Kata nama Sambas dari pengertian di atas dapat diartikan dari tiga kerajaan
yaitu Brunai, Sambas, Sukadana. Kerajaan Sambas sebelum kedatangan Raja Tengah
dari Brunai dalam membawa pengaruh Islam, Kerajaan Sambas pada masa itu
diperintah oleh seorang ratu yang bernama Ratu Sepudak. Ratu sepudak dikatakan
berasal dari keturunan tentara Majapahit, yang berkedudukan di kota lama.[4]
Sekarang daerah ini merupakan kecamatan Galing, Kabupaten Sambas.
Berakhirnya kekuasaan Ratu Sepudak menjelang permulaan Zaman
VOC lebih kurang 1600 M.[5]
Sejarah berdirinya Kesultanan Sambas di tandai dengan pemindahan kekuasaan
secara damai dari penguasa Hindu kerajaan Sepudak kepada penguasa Islam Raden
Sulaiman bergelar Raja Tengah. Pemindahan kekuasaan yang dilakukan melalui
jalur perkawinan antara putri Ratu Sepudak yang bernama Raden Mas Ayu Bungsu
dengan Raden Sulaiman.[6]
Pada masa pemerintahan Ratu Sepudak sistem birokrasi Kerajaan Sambas ketika itu
adalah menurut adat istiadat kerajaaan turun-temurun.
Selanjutnya, seperti yang diungkapkan Pabali Musa bahwa telah
menjadi kebiasaan dari sejak dahulu dan seterusnya untuk menentukan pengganti
raja hanya cukup bermusyawarah dengan lingkungan keluarga raja dan kaum
bangsawan tanpa melibatkan rakyat banyak. Merekalah yang memutuskan dan
menetapkan sedangkan rakyat wajib menerima dan mentaatinya.[7]
Akhirnya Raden Sulaiman dapat mewarisi Kerajaan Sambas dan menjadi raja Islam
pertama dengan gelar Sultan Muhammad Tsafiudin I. Menjadikan Kerajaan Sambas
Hindu berubah menjadi kerajaan Islam dengan menjadi Kesultanan Sambas.
Sejak awal tahun 1600 M, agama Islam sudah berkembang di
Sambas yang dibawa oleh Raden Sulaiman.[8]
Sepanjang perjalanan sejarahnya Kesultanan Sambas memiliki lima tempat atau
kota bersejarah sebagai tonggak awal kelahirannya sehingga akhirnya menjadi kesultanan
besar. Mula-mula di Kota Bangun atau Muara Tebangun, merupakan tempat pertama
kalinya Raja Tengah ayah Raden Sulaiman singgah dan kemudian membangun
perkapungan. Ditempat ini pula Ratu Anom Kusuma Yudha menyerahkan tahta
kerajaan Hindu Sambas secara damai dan sukarela kepada Raden Sulaiman sultan
pertama Sambas.
Kemudian Kota Lama, merupakan Ibukota atau pusat
pemerintahan Kerajaan Sambas Tua yang masih menganut pengaruh Animis-Hindu
yaitu Kerajaan Ratu Sepudak yang berpusat Kecamatan Galing. Selanjutnya, Kota
Bandir, daerah hulu sungai Subah yang merupakan tempat Raden Sulaiman
mengasingkan diri setelah meninggalkan Kerajaan Ratu Sepudak dan juga selama
sekitar tiga tahun menjadi pusat pemerintahan transional Kerajaan Sambas yang
diamanahkan Ratu Sepudak kepada Raden Sulaiman.[9]
Berikutnya Lubuk Madung daerah disamping
Sungai Teberau merupakan ibukota pertama Kesultanan Islam Sambas dan
disini Raden Sulaiman dinobatkan menjadi penguasa pertama dengan gelar Sultan
Muhammad Tsafiuddin I. Terakhir Muara Ulakan[10]
tempat ini dijadikannya sebagai pusat pemerintahan Kesultanan Sambas sejak masa
kekuasaan Raden Bima, dan tempat ini masih dapat disaksikan hingga sekarang ini
yang berada dalam Desa Dalam Kaum.
Kesultanan Sambas dikatakan Pabali Musa[11],
pernah eksis di bumi Khatulistiwa selama kurang tiga abad (1630-1943).
Sepanjang itu diperintah oleh 15 orang keturunan sultan mulai dari sultan
Muhammad Tsyafiuddin I (1612) sampai sulthan terakhir Muhammad Mulia Ibrahim
Tsyafiuddin (1943).[12]
Masa pemerintahan terakhir yaitu Raden Mulia Ibrahim bin pangeran Adipati Ahmad
bin Marhum Cianjur, disebut Sultan Mulia Ibrahim yang berkuasa 1931-1943.[13]
Masa pemerintahan Sultan Mulia Ibrahim Tsyafiuddin baginda telah melakukan
berbagai upaya untuk memajukan agama Islam dengan jalan menyebarluaskan ajaran-ajaran
agama Islam di dalam maupun di luar kota Sambas sampai kepelosok kampung.
Kemudian Sultan Mulia Ibrahim Tsyafiuddin mendirikan masjid
Jami’ atau masjid Agung di dalam kota, diikuti oleh rakyat dengan mendirikan
masjid-masjid atau surau-surau dan madrasah di seluruh kampung. Pemberantasan
buta huruf Arab Jawi dan huruf Latin, menyebarluaskan pengertian seluk-beluk
agama Islam dan menghidupkan atau menguatkan hukum-hukum agama Islam dan hukum
adat, semua ini merupakan usaha Sultan dalam mengembangkan agama Islam dan
kelestarian adat.[14]
Tetapi pada masa pemerintahan Sultan Muhammad Mulia Ibrahim pembangunan
dibidang pendidikan dan pengajaran tidak banyak mengalami peningkatan mengingat
masa tahun 1931-1933 situasi dan kondisi negeri Sambas mengalami masa krisis,
dalam keadaan susah. Kerajaan Belanda terpaksa mengurangi belanja pendidikan
dan pengajaran masyarakat di sekolah-sekolah. Demikian juga Madrasah Sultha>niah mengalami kemunduran kemudian atas
insiatif dari maharaja Imam Haji Muhammad Basiuni Imran, Raden Muchsin Panjianom, Raden Abubakar
Panjianom, Daeng Muhammad Harun pada tanggal 19 April 1936 dibentuk perkumpulan
“Tarbiatoel Islam” dengan motto:
bahwa bangsa Indonesia tidak akan dapat maju kalau tidak mempunyai perguruan
bangsa sendiri”.[15]
Dengan atas insiatif diatas membuat kesultanan sambas bangkit dalam bidang
pendidikan masa itu.
Kesultanan Sambas pernah mencapai puncak kebesarannya pada
awal abad ke-20 dengan sebutan “Serambi
Mekah” kejayaan yang bercirikan keilmuan Islam dengan corak reformisme pada
saat Maharaja Imam Sambas di jabat oleh Muhammad Basyuni Imran.[16]
Pada tahun 1931 pengangkatan Muhammad
Basyuni Imran di tetapkan sebagai Maharaja Imam, keberadaan Islam dan penganut
Islam dalam Kota Sambas dan sekitarnya masa itu belum berkembang. Bukan karena
penduduknya sedikit, akan tetapi juga terdapat perimbangan dengan agama lain
yang non Islam. Di antaranya ialah agama Budha dan Kong Hu Cu yang di peluk
oleh sebagian besar penduduk asing Cina demikian juga dengan agama Katholik dan
mereka yang memeluk agama kepercayaan animisme
yang berada didaerah pedalaman. Bagi ulama keadaan yang sedemikian merupakan
suatu tantangan yang mesti dihadapi. Islam yang mengandung iman dan taqwa harus
pula disebarluaskan dengan memperbanyak
dakwah dan muballigh kepada penduduk yang masih buta agama.[17]
Perkembangan Islam di masyarakat Sambas hanya pada lingkungan masyarakat Melayu
yang bermukim di pesisir tepi sungai Sambas tetapi perkembangan Islam belum
begitu merata ke daerah pedalaman Sambas.
[5] Ahmadi
Muhammad, Tahun Hijriyah dan Sejarah
Sambas Masjid Jami’ Sulthan Muhammad Tsafiudin II sambas, (Sambas: YASPI Sambas, 2007), hal. 10.
[8] Ansar Rahman,
dkk, Kabupaten Sambas Sejarah Kesultanan
dan Pemerintahan Daerah, (Dinas Pariwisata Pemda Kabupaten Sambas: 2001), hal. 88.
[12] Machrus
Effendy, Riwayat Hidup dan Perjuangan
Maharaja Imam Sambas, (Jakarta, Dian Kemilau, 1995), hal. 12.
0 comments:
Post a Comment