Blue Wings - Working In Background

"Sambas"

Powered By Blogger

GOOGLE FEED BURNER

Enter your email address:

Delivered by FeedBurner

BERDIRI DI UJUNG NEGERI

PERBATASAN INDONESIA-MALAYSIA, TEMAJUK, SAMBAS.

TUGU GARUDA PERBATASAN

TEMAJUK, SAMBAS.

TANJUNG DATOE INDONESIA

INDAHNYA INDONESIA KU, TEMAJUK, SAMBAS.

PERBATASAN INDONESIA-MALAYSIA

BERDIRI DI BATAS NEGERI, TEMAJUK, SAMBAS.

TUGU KETUPAT BERDARAH

SAKSI BISU PERTUMPAHAN DARAH 1999, JAWAI, SAMBAS

Friday, 18 November 2016

AGAMA DAN KESEHATAN MENTAL


1.      Manusia dan Agama
Manusia adalah mahluk yang serba unik, dengan keunikannya mejadi kan manusia sebagai mahluk yang rumit dan misterius,[1] artinya dari ungkapan ini bahwa manusia adalah mahkluk yang memiliki kriteria-kriteria serta sifat-sifat yang berbeda dari yang lainnya. Manusia itu mahluk ang rumit dan misterius karena akal, pikiran dan apa yang sedang dipikirkan nya tidak bisa untuk di tebak oleh manusia lainnya.
“ Sebenarnya manusia telah mencurahkan perhatian dan usaha yang sangat besar untuk mengetahui dirinya, meskipun kita memiliki perbendarahaan yang cukup banyak dari hasil penelitian para ilmuan, filsuf, sastrawan dan ahli kerohanian sepanjang masa ini. Tetapi kita hanya mampu mengetahui beberapa segi tertentu dari diri kita.
Kita tidak mengetahui manusia secara utuh. Yang kita ketahui hanyalah bahwa manusia terdiri dari bagian-bagian tertentu, dan ini pun hakikatnya di bagi lagi menurut tata cara kita sendiri. Pada hakikatnya pertanyaan-pertanyaan yang diajukan mereka yang mempelajari manusia kepada diri mereka hingga kini masih tanpa jawaban”.[2]
Ungkapan ini bermaksud  bahwa kita sebagai manusia tidak bisa untuk mengetahui diri sendiri sepenuhnya, kita hanya dapat mengetahui diri sendiri pada bagian-bagian yang tertentu saja karena yang mengetahui semuanya adalah yang menciptakan kita. Jadi pertanyaan-pertanyaan tentang diri sendiri tidak bisa di jelaskan sampai sekarang dan bahkan kapanpun.
Kajian mengenai manusia memang belum tuntas. Dan mungkin tidak akan tuntas, tetapi dari khazanah kajian dimaksud setidaknya terungkapkan bahwa manusia adalah mahluk multidimensi.
Berangkat dari konsep fitrah, hubungan manusia dengan agama berdasarkan adanya kerinduan dalam diri manusia. Ia membagi kerinduan menjadi kerinduan jasmani dan kerinduan rohani.
Manusia secara etik, menjunjung tinggi kebaikan, kemuliaan, altruism, ataupun pengorbanan, dan menganggapnya sebagai nilai-nilai luhur. Kerinduan ini menjadikan manusia untuk mencari dan menemukan nilai-nilai luhur hakiki. Artinya kerinduan seperti ini lah yang dibutuhkan, kerinduan ini bisa diartikan sebagai sebuah ibadah seseoarang kepada yang maha kuasa, kerinduan ini sangat sulit untuk didapatkan karena ia berkaitan dengan ibadah. Kebanyakan manusia sangat sulit untuk melakukan ibadah-ibadah, meskipun tidak lah sesulit yang dikiranya.
Hubungan agama merupakan hubungan yang bersifat  kodrati. Agama itu sendiri menyatu dalam fitrah penciptaan manusia. Pendapat yang sudah ektrem tentang masalah itu pun masih menunjukkan betapa agama sudah dinilai sebagai bagian dari kehidupan manusia yang erat keterkaitannya dengan gejala psikologis. Jadi agama dalam kondisi diatas sangat terkait dengan manusia serta psikologis setiap manusia dan manusia tidak bisa lepas darinya.
Agama merupakan suatu bentuk rasa takut kepada Tuhan, dan secara psikologis agama adalah ilusi manusia atau bisa disebut sebagai khayalan manusia. Manusia lari kepada agama karena ketidakmampuannya dalm menghadapi becana atau suatu masalah. Segala bentuk prilaku keagamaan merupakan ciptaan manusia yang timbul supaya dirinya terhindar dari bahaya dan dapat memberikan rasa aman. Untuk keperluan itu manusia menciptakan Tuhan dalam pikirannya.
Agama sudah memang tak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia. Ketidak setujuannya manusia terhadap agama mungkin disebabkan oleh faktor-faktor tertentu baik oleh kepribadian maupun lingkungan manusia. Namun, untuk menutupi dan membuang rasa keagamaan sangat lah sulit dilakukannya. Manusia mempunyai unsure batin yang lebih untuk tunduk kepada dzat yang ghaib. Ketundukan ini adalah bagian dari faktor intern manusia yang dalam psikologi kpribadiaan disebut hati nurani atau pribadi seseoarang.
Agama sebagai fitrah manusia telah diinformasikan dalam al-qur’an:
“ maka hadapkan lah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah); tetaplah atas fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan terhadap fitrah Allah (itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahuinya. (Q.S 30:30).
Manusia di ciptakan Allah mempunyai naluri beragama yaitu agama tauhid. Kalau ada manusia tidak beragama tauhid, maka hal itu tidak wajar. Mereka tidak beragama tauhid itu hanyalah lantaran pengaruh lingkungan.
Artinya manusia diciptakan Allah memiliki naluri tauhid, dan Allah itu bersifat tauhid, tapi banyak manusia yang tidak tahu akan ketauhidan nya itu.      
2.      Agama dan Pengaruhnya terhadap Kesehatan Mental
Kesehatan mental adalah ilmu yang meliputi sistem-sistem tentang prinsip-prinsip, peraturan-peraturan serta prosedur-prosedur untuk mempertinggi kesehatan rohani.[3] Kesehatan mental juga bisa diartikan bahwa suatu kondisi batin yang senantiasa berada dalam keadaan tenang, aman dan tentram, dan upaya untuk menemukan ketenangan batin[4] dapat dilakukan antara lain melalui penyesuaian diri secara resignasi[5]. Jadi kesehatan mental adalah kondisi batin yang dalam keadaan sehat tidak ada gangguan dari apaun.
Orang yang sehat mentalnya ialah orang yang dalam rohani atau dalam hatinya selalu tenang, aman dan tentram. Dalam ilmu kedokteran dikenal istilah psikosomatik (kejiwabadanan). Di maksudkan dengan istilah tersebut adalahuntuk menjelaskan bahwa terdapat hubungan yang erat antara jiwa dan badan. Jika jiwa berada dalam kondisi yang kurang normal seperti susah, cemas, gelisah, dan sebagainya, maka badan turut menderita.
Di dalam tubuh manusia terdapat Sembilan jenis kelenjar hormon yang memproduksi persenyawaan-persenyawaan kimia yang mempunyai pengaruh biokimia tertentu, disalurkan lewat pembuluh darah dan selanjutnya memberi pengaruh kepada eksistensi dan berbagai-bagai kegiatan tubuh. Persenyawaan-persenyawaan itu di sebut hormon.
Hubungan antara kejiwaan dan agama dalam kaitannya dengan hubungan antara agama sebagai keyakinan dan kesehatan jiwa, terletak pada sikap penyerahan diri seorang terhadap suatu kekuasaan yang maha tinggi. Sikap pasrah yang serupa itu di duga akan member sifat optimis pada diri seseorang sehingga muncul perasaan positif seperti rasa bahagia, rasa senang, puas, sukses, merasa dicintai atau rasa aman. Sikap emosi yang demikian merupakan bagian dari kebutuhan asasi manusia sebagai makhluk yang ber-Tuhan. Maka, dalam kondisi yang serupa itu manusia berada dalam keadaan tenang dan normal, berada dalam keseimbangan persenyawaan kimia dan hormone tubuh. Dengan kata lain, kondisi yang demikian menjadi manusia pada kondisi kodratinya, sesuai dengan fitrah kejadiannya, sehat jasmani, dan rohani. [6]
Salah satu cabang ilmu jiwa, yang tergolong dalam psikologi Humanistika di kenal logoterapi[7].
Logoterapi menunjukkan tiga bidang kegiatan yang secara potensial member peluang kepada seseorang untuk menemukan makna hidup bagi dirinya sendiri. Ketiga kegiatan itu adalah :
a.       Kegiatan berkarya, bekerja, dan mencipta, serta melaksanakan dengan sebaik-baiknya tugas dan kewajiban masing-masing.
b.      Keyakinan dan penghayatan atas nilai-nilai tertentu ( kebenaran, keindahan, kebajikan, keimanan dan lainya).
c.       Sikap tepat yang diambil dalam keadaan dan penderitaan yang tidak bisa dihindari  lagi.
Hubungan antara kejiwaan dan agama dalam kaitannya dengan hubungan antara agama sebagai keyakinan dan kesehatan jiwa, terletak pada sikap penyerahan diri seorang terhadap suatu kekuasaan Yang Maha Tingg.[8]
Kehilangan makna hidup begitu besar pengaruhnya terhadap perubahan prilaku manusia. Kecanggihan Iptek bukan menjadikan manusia sebagai berperadaban, tetapi semangkin biadap. Naluri kemanusiaan berubah jadi naluri kebinatangan. Kekerasan muncul, baik dalam bentuk nyata, ataupun dalam bentuk imajinasi. Siapa kuat, dialah yang menang. Bagi yang tak kuat menanggung derita batin ini terpaksa mencari jalan sendiri. Yaitu bunuh diri.
Kehilangan makna hidup menyebabkan manusia mencari jalan sendiri-sendiri. Bertualang tanpa arah, terus mencari, siapa dan apa pun yang di duga mampu menawarkan obat penawar kesepian batin akan dihampiri. Berlindung dibawah manusia mistik, mencoba melabuhkan diri digemerlap hidup selebritis, berhura-hura di suasana klub malam, ataupun mengonsumsiminuman keras. Batin manusia modern bagaikan terpengaruhi oleh produk teknologi hasil rekayasa mereka sendiri, sangat ironis sekali.
Padahal sang Maha Pencipta sudah mewanti-wanti hal itu. Di kala manusia melupakan Sang Maha Pencipta dan kehilangan kesadarannya, kehidupannya jadi hampa. Ketentraman batin tersaput, hidup tanpa makna. Menjauhkan diri dari sang pencipta, berarti mengosongkan diri nilai-nilai imani, sungguh merupakan kerugian terbesar bagi manusia selaku makhluk berdimensi spiritual..


3.       Karakteristik Mental yang Sehat
a.       Dapat menyesuaikan diri
Penyesuian diri harus lah bisa kita lakukan karena apabila kita pergi ke tempat lain kita bisa berkomunikasi dengan baik dan juga kesehatan mental kita akan menjadi sehat karena kita sudah dapat menyesuiankan diri kita dimana pun kita berada.
b.      Terhindar dari gangguan jiwa
Gangguan jiwa artinya suatu masalah yang kita hadapi dan sangat sulit untuk diselesai kan, jika kita terhindar dari suatu masalah yang membuat kita menjadi permasalah yang sangat berat, maka kita akan memiliki mental yang sehat, tidak ada gangguan apapun.
c.       Memanfaatkan potensi semaksimal mungkin
Jika kita memiliki sesuatu potensi maka, jangan malu untuk menampilkannya, kita harus memanfaatkan pontensi tersebut dengan sebaik mungkin, jika tidak akan mengganggu kesehatan mental kita.
d.      Tercapai kebahagian pribadi dan orang lain
Kebahagian sangat lah penting bagi semua orang, semua orang pastinya ingin bahagia, tetapi tidak semua orang yang mendapatkan kebahagian yang ia cari. Jadi jika seseorang sudah tercapai kebagiannya maka ia akan memiliki mental yang sehat. [9]
Karakteristik pribadi yang sehat mental nya juga bisa dilihat dari aspek pribadi. Yang pertama adalah melalui fisiknya yaitu perkembangannya normal, berfungsi untuk melakukan tugas-tugasnya dan sehat, tidak sakit-sakitan. Yang kedua adalah melalui psikis yaitu respek terhadap diri sendiri dan orang lain, memiliki insight dan rasa humor, memiliki respons emosional yang wajar, mampu berpikir realistic dan objektif, terhindar dari gangguan-gangguan psikologis, bersifat kreatif dan inovatif, bersifat terbuka dan fleksibel, tidak difensif, dan memilki perasaan bebas untuk memilih, menyatakan pendapat dan bertindak. Yang ketiga adalah melalui sosial, yaitu memiliki perasaan empati dan rasa kasih sayang terhadap orang lain, serta senang untuk memberikan pertolongan kepada orang-orang yang memerlukan pertolongan,  mampu berhubungan dengan orang lain secara sehat, penuh cinta kasih dan persahabatan, dan bersikap toleran dan mau menerima tanpa memandang kelas sosial, tingkat pendidikan, agama, politik, suku, ras, atau warna kulit. Yang terakhir adalah Moral religious yaitu beriman kepada Allah dan taat mengamalkan ajaran-Nya dan jujur, amanah, ikhlas dalam beramal.   
4.      Ciri-Ciri Kesehatan Mental
Pada abad 17 kondisi suatu pasien yang sakit hanya diidentifikasi dengan medis, namun pada perkembangannya pada abad 19 para ahli kedokteran menyadari bahwa adanya hubungan antara penyakit dengan kondisi dan psikis manusia. Hubungan ini menyebabkan adanya timbale balik antara satu sama lain.
Memasuki abad 19 konsep kesehatan mental mulai berkembang dengan pesatnya namun apabila ditinjau lebih mendalam teori-teori yang berkembang tentang kesehatan mental masih bersifat sekuler, pusat perhatian dan kajian dari kesehatan mental tersebut adalah kehidupan di dunia, pribadi yang sehat dalam menghadapi masalah dan menjalani kehidupan hanya berorientasi pada konsep sekarang ini dan disini, tanpa memikirkan adanya hubungan antara masa lalu, masa kini dan masa yang akan datang.
Solusi terbaik untuk dapat mengatasi masalah-masalah kesehatan mental adalah dengan mengamalkan nilai-nilai agama dalam kehidupan sehari-hari, kesehatan mental seseorang dapat ditandai dengan kemampuan orang tersebut dalam penyesuaian diri dengan lingkungannya, mampu mengembangkan potensi yang terdapat dalam dirinya sendiri semaksimal mungkin untuk menggapai ridho Allah SWT, serta dengan mengembangkan seluruh aspek kecerdasan, baik kesehatan spiritual, emosi maupun kecerdasan intelektual.
Mental yang sehat tidak akan mudah terganggu oleh pemikiran yang stress orang yang memiliki mental sehat berarti mampu menahan diri dari tekanan-tekanan yang datang dari dirinya sendiri dan lingkungannya. Ciri-ciri orang yang memilki kesehatan mental adalah Memilki kemampuan diri untuk bertahan dari tekanan-tekanan yang datang dari lingkungannya[10].
5.      Efek Agama pada Kesehatan Mental dan Fisik
Berdasarkan penelitian bahwa agama tidak lah berpengaruh yang tidak baik bagi kesehatan mental dan fisik
a.       Efek pada kesehatan mental
Agama merupakan fator penting yang berupaya untuk mengatasi suasana hidup yang penuh dengan gangguan, agama juga dapat meramalkan siapa yang mendapatkan defresi. Dalam menghadapi sikap yang tak terhindar lagi bagi kondisi, menurut logo terapi, maka ibadah merupakan salah satu cara yang dapat digunakan untuk membuka pandangan seorang akan nilai-nilai potensial dan makna hidup yang terdapat dalam diri dan sekitarnya.
Sejumlah kasus yang menunjukan adanya hubungan antara faktor keyakinan (agama) dengan kesehatan jiwa (mental) tampaknya sudah disadari para ilmuan beberapa abad yang lalu.
b.      Efek pada kesehatan fisik
Seseorang yang berkeyakinan atau beragama apabila terserang penyakit, lebih cepat sembuhnya dari pada yang tidak beragama atau tidak mempunyai keyakinan. Do’a penyembuhan terbukti menimbulkan tanggapan positif dari kalangan masyarakat luas dan memang   terbukti bisa menyembuhkan.[11]



6.      Terapi Keagamaan
Orang yang tidak merasa tenang, aman serta tentram dalam hatinya adalah orang yang sakit rohani atau mentalnya,[12] manusia mempunyai kebutuhan-kebutuhan dasar tertentu, tetapi tak jarang di jumpai bahwa seseorang tak mampu menahan keinginan bagi terpenuhnya kebutuhan dirinya. Dalam kondisi seperti itu akan terjadi pertentangan (konflik) dalam batin. Pertentangan ini akan menimbulkan ketidakseimbangan dalam kehidupan rohani, yang dalam kesehatan mental disebut kekusutan rohani. Kekusutan rohani seperti ini disebut kekusutan fungsional.
Usaha pengulangan kekusutan rohani atau mental ini sebenarnya dapat dilakukan sejak dini oleh yang bersangkutan. Penyelesaian dengan memilih penyesuain diri dengan norma-norma moral yang luhur seperti bekerja dengan jujur, resignasi, sublimasi, dan kompentasi. Pendekatan terapi keagamaan ini dapat dirujuk dari informasi al-Qur’an sendiri sebagai kitab suci.
Didalam al-Qur’an sebagai dasar dan sumber ajaran Islam banyak ditemukan ayat-ayat yang berhubungan dengan ketenangan dan kebahagiaan jiwa sebagai halyang prinsipil dalam kesehatan mental. Ayat tentang kebahagiaan salah satunya tedapat dalam surat Al-Qashash ayat 77 yang artinya “dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) duniawi dan berbuat baik (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu dan jangan kamu membuat kerusakan di(muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan (QS Al-Qashash:77)
Dalam ayat ini Allah memerintahkan orang Islam untuk merebut kebahagiaan akhirat dan kenikmatan dunia dengan jalan berbuat baik dan menjauhi perbuatan munkar. Keimanan, ketakwaan, amal soleh, berbuat yang makruf, dan menjauhi perbuatan keji dan munkar adalah merupakan factor penting dalam usaha pembinaan kesehatan mental.
   
7.      Kematian
kata mati dan kematian sebenarnya sudah sangat akrab dengan teliga manusia. Setiap orang pasti akan mengalaminya. Menjumpai kematian. Namun, manakala masih berada dalam kenikmatan hidup, manusia sering melupakan dengan kematian. Sebaliknya, bila usia semangkin sepuh atau didera sakit, maka baying-bayang kematian mulai muncul. Secara psikologis, turut mempengaruhi sikap dan prilaku manusia.
a.       Kematian dalam Agama
Setiap agama mengajarkan tentang adanya hari kebangkitan. Alam baru dalam kehidupan lain yang akan dialami oleh manusia mati. Dipercayai bahwa pada saat itu manusuia akan dihidupkan kembali guna diminta pertanggungjawabannya. Perbuatan baik akan memperoleh ganjaran kenikmatan hidup surgawi. Sebaliknya, perbuatan buruk akan diganjar dengan hukuman berupa siksaan neraka. Oleh karena itu, hari kebangkitan ini juga disebut sebagai hari pembalasan.
Kemudian dalam ajaran Islam, hari kebangkitan merupakan bagian dari rukun ima. Mengenai hari kebangkitan ini dikemukakan oleh Abul A’la al-Maududi: “ Yang wajib kita beriman kepadanya mengenai hari itu, ialah:
1)      Bahwa Allah akan menghapus semesta ala mini dan sekalian makhluk yang ada didalamnya pada suatu hari yang dikenal dengan hari kiamat.
2)      Kemudian Allah SWT akn menghidupkan mereka kembali sekali lagi dan mengumpulkan mereka di hadapan-Nya. Itu adalah mahsyar atau hari kebangkitan.
3)      Kemudian segala sesuatu yang diperbuat manusia, yang baik dan yang buruk dalam kehidupan dunia mereka, diajukan kepada pengadilan Allah SWT. Tanpa dikurangi dan tanpa dilebihkan.
4)      Allah SWT menimbang bagi tiap-tiap orang dari manusia akan perbuatannya yang baik dan yang buruk. Barangsiapa yang lebih berat dari timbangan perbuatan-perbuatannya yang baik, maka dia diampuni-Nya dan barang siapa yang lebih berat dari timbangan perbuatan-perbuatannya yang buruk, maka ia disiksa-Nya.    
b.      Psikologis kematian 
Secara psikologis, manusia usia lanjut terbebankan oleh rasa ketidakberdayaan. Kelemahan fisik, keterbatasan gerak, dan menurunkan fungsi alat indera, menyebabkan manusia usia lanjut merasa terisolasi mulai terasa adanya kekosongan batin.
Kekosongan batin akan kian terasa bila dihadapkan peristiwa-peristiwa kematian. Terutama bila dihadapkan pada kematian-kematian orang-orang yang terdekat atau paling di cintai.


KEMATANGAN DAN PENGALAMAN BERAGAMA



A.  Perkembangan Agama Semasa Kecil
Semasa kecil saya tidak banyak tau mengenai agama, saya hanya tau saya selalu disuruh shalat dan mengaji. Tapi semua itu tetap saya lakukan walaupun terkadang rasa memberontak itu selalu ada karena kelelahan, ingin main, dan malas. Orangtua saya selalu menunjukkan muka sadis dan selalu membawa kayu api jika saya tidak mau melaksanakan sholat dan mengaji.
Menurut penelitian Ernest Harms perkembangan agama anak-anak itu melalui beberapa fase (tingkatan). Dalam bukunya The Development of Religious on Children, ia mengatakan bahwa perkembangan agama pada anak-anak iti melalui tiga tingkatan, yaitu:
1.    The Fairy Tale Stage (Tingkat Dongeng)
Tingkatan ini dimulai pada anak yang berusia 3 - 6 tahun. Pada tingkatan ini konsep mengenai Tuhan lebih banyak dipengaruhi oleh emosi dan fantasi.
2.    The Realistic Stage (Tingkat Kenyataan)
Tingkat ini dimulai sejak anak masuk Sekolah Dasar hingga ke usia menganjak remaja. Pada masa ini, ide ke-Tuhanan anak sudah mencerminkan konsep-konsep yang berdasarkan kepada kenyataan (realitas). Konsep ini timbul melalui lembaga-lembaga keagamaan dan pengajaran agama dari orang dewasa lainnya.
3.    The Individual Stage (Tingkat Induvidu)
Pada tingkat ini anak telah memiliki kepekaan emosi yang paling tinggi sejalan dengan perkembangan usia mereka. Konsep keagamaan yang individualistis ini terbagi atas tiga golongan, yaitu:
a.    Konsep ke-Tuhanan yang konvesional dan konservatif dengan dipengaruhi sebagian kecil fantasi. Hal tersebut disebabkan oleh pengaruh luar.
b.    Konsep ke-Tuhanan yang lebih murni yang dinyatakan dalam pandangan yang bersifat personal (perorangan).
c.    Konsep ke-Tuhanan yang bersifat humanistik. Agama telah menjadi etos humanis pada diri mereka dalam menghayati ajaran agama. Perubahan ini setiap tingkatan dipengaruhi oleh perubahan intern, yaitu perkembangan usia dan faktor ekstern berupa pengaruh luar yang dialaminya.
Masa kecil merupakan masa yang menyenangkan karena fikiran masih labil, yang difikirkan hanyalah bermain kemudian pulang kerumah makan. Dirumahlah orangtua saya memainkan peranan sebagai guru pertama yang mengajarkan tentang agama kepada saya. Konsep ke-Tuhanan yang ditanamkan orangtua saya ketika usia saya kurang lebih 4 tahun, saya sudah dikenalkan siapa Tuhan, dan untuk apa kita shalat mengaji, puasa dan lain-lain, walaupun penjelasan itu hanyalah dasar-dasarnya saja tetapi saya sudah mulai memahami siapa itu Tuhan.
Berdasarkan penjelasan Ernest Harms diatas seorang anak yang berusia 3-6 tahun konsep ke-Tuhanannya masih dipengaruhi oleh emosi dan hayalan. Seperti itulah yang saya alami ketika saya berusia 3-6 tahun. Konsop ke-Tuhanan yang saya dapatkan banyak ketika saya bermain, bukan hanya konsep ke-Tuhanan saja melaikan juga konsep sosial dengan sesame teman-teman,  dan emosi saya saat itu sangat mempengaruhi proses belajar saya. Ketika saya lagi senang maka setiap apa yang didapat ataupun disampaikan oleh orang tua saya yang berkaitan dengan masalah agama atau pun masalah lain, maka semua itu akan saya turuti. Sedangkan apabila sebaliknya maka rasa memberontak akan timbul dalam hati.
Memasuki usia persekolahan banyak hal baru yang saya temui yang tidak saya dapatkan di rumah, mulai dari teman-teman baru, suasana baru tempat belajar baru, yang biasanya belajar hanya setakat dalam lingkungan keluarga. Selain mendapatkan pendidikan di sekolah orang tua saya memasukkan saya ke Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPA). Di TPA inilah saya banyak mendapatkan pengetahuan agama. Ketika saya sudah mulai bersekolah orangtua saya selau menyuruh saya untuk selalu pergi shlat kemushala, itu semua untuk melatih saya supaya dapat bergaul dengan orang-orang tua atau pun bergaul dengan teman-temaman sebaya dengan saya. Menganjak usia dewasa pengetahuan pun semakin bertambah, pemikiran pun sudah mulai semakin matang.
Setelah menamatkan Sekolah Menengah Atas saya disuruh oleh orangtua saya untuk pergi mencari pengalaman keluar daerah. Akhirnya saya pun setuju untuk pergi keluar daerah yaitu pergi ke Balai Karangan Kabupaten Sanggau. Desa yang saya datangi adalah desa Satok kecamatan Sekayam Kabupaten Sanggau. Disana saya bekerja sebagai pekerja ladang sawit. Banyak hal yang saya temui ketika saya berada dalam daerah yang penuh dengan pohon sawit dan masyarakat penghuninya mayoritas berasal dari suku dayak. Adaptasi yang cukup tinggi sangat diperlukan ketika berada didaerah tersebut  karena penyesuaian antara daerah asal dengan daerah orang yang apalagi daerah tersebut yang mayoritas beragamakan Kristen. Masyarakat setempat sangat baik menyambut kedatangan kami, mereka menganggap kami macam saudara mereka juga, hanya saja kami yang menjaga jarak dengan mereka.
Suku dayak sangat terkenal dengan hokum adatnya . barangsiapa yang melakukan pelanggaran niscaya mereka akan melaksanakan hukum adat yang sangatlah berat. Kalau dilihat dari sisi Islam hukum yang meraka lakukan sangatlah tidak adil, karena hukum yang dijalankannya bersifat berat sebelah bagi kita yang masih baru, tetapi bagi mereka hukum yang mereka jalankan itu sangat  sesuai dan setimpal. Contohnya ketika kawan saya secara tidak sengaja melanggar seekor ayam milik penduduk dayak tersebut, dia langsung dikenakan hukum adat oleh ketua adat setempat, hukumannya berupa membayar denda sebanyak 500,000 rupiah. Sedangkan harga seekor ayam tersebut jika ditaksir paling mahal hanyalah 50.000  rupiah saja. Apakah hukum adat tersebut dapat dikatakan suatu pemerasan. Adakah keadalian dalam hukum tersebut.
Dikawasan perkebunan sawit tersebut saya banyak mengalami kejadian mistik. Pada malam tiba maka rasa takut tersebut pun akan tiba dikarenakan banyak makhluk halus yang berkeliaran diluar sana. Di sanalah saya baru merasakan adanya kehidupan makhluk ghaib pada malam hari, dan di sanalah saya merasakan perlunya beribadah meminta perlindungan dari Allah supaya dijauhkan dari makhluk-makhluknya yang selalu mengganggu kami pada saat malam tiba. Sebelumnya saya memang shalat lima waktu alhamdulillah tidak pernah tinggal,  tetapi setelah setiap malam kami diganggu oleh makhluk halus, beribadah  saypun semakin meningkat karena takut akan diganggu oleh makhluk halus tersebut. Selesai habis shalat saya mengaji tidak pernah tinggal, shalat sunnat pun tidak pernah tinggal. Di sinilah saya merasakan perlunya beribadah memohon perlindungan dengan Allah dari gangguan makhluknya yang tidak pernah kita inginkan keberadaannya.
Hanafi Anshari dalam bukunya yang berjudul “Dasar-Dasar Ilmu Jiwa Agama” menjelaskan kematangan atau kedewasaan seseorang dalam beragama biasanya ditunjukkan dengan kesadaran dan keyakinan yang teguh karena menganggap benar akan beragama yang dianutnya dan ia memerlukan agama dalam hidupnya. Seseorang yang matang dalam beragama bukan hanya memegang teguh paham keagamaan yang dianutnya dan diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari dengan penuh tanggung jawab, melainkan kadang-kadang dibarengi dengan pengetahuan keagamaan yang cukup mendalam. Jika kematangan beragama telah ada pada diri seseorang, segala perbuatan dan tingkah laku keagamaannya senantiasa dipertimbangkan betul-betul dan dibina atas rasa tanggung jawab, bukan atas dasar peniruan dan sekedar ikut-ikutan saja.
Berdasarkan apa yang dikatakan oleh Hanafi Anshari, dahulunya semasa  usia Sekolah Menengah Atas keyakinan terhadap beragama saya masih dikatakan lima puluh-lima puluh, tapi setelah mengalamai suatu kejadian yang diluar nalar manusia, saya merasakann kebutuhan terhadap agama dan keyakinan saya terhadap beragama semakin bertambah.

Setelah beberapa bulan saya bekerja di ladang sawit akhirnya saya pun pulang ke kampung halaman saya. Semua kejadian yang saya alami sewaktu berada di tempat orang yang mayoritas bersukukan dayak tersebut saya ceritakan kepada ayah saya. Banyak hal yang ayah saya beritahukan kepada saya mengenai apa-apa yang saya alami sewaktu saya berada ditempat orang tersebut. Makhluk halus juga memiliki kehidupan yang sama dengan manusia. Tetapi makluk tersebut tidak dapat dilihat oleh manusia. Makhluk halus tersebut juga menginginkan ketenangan seperti halnya juga manusia. Mereka tidak mau kalau tempat mereka diganggu, dikotori apalagi dirusak. Seperti itulah yang ayah saya jelaskan kepada saya terkait masalah makhluk halus. Sesama makhluk Tuhan haruslah saling menghormati, menjaga, dan melindungi.

ASPEK-ASPEK PSIKOLOGI YANG BERHUBUNGAN DENGAN PERKEMBANGAN BERAGAMA



A.  Motivasi Beragama
1.   Pengertian Motivasi
Motivasi itu sendiri merupakan istilah yang lebih umum digunakan untuk menggantikan tema “ motif-motif “  yang dalam bahasa inggris disebut dengan motive yang berasal dari motion, yang berarti gerakan atau sesuatu yang bergerak. Karena itu motivasi erat hubungannya dengan “gerak”, yaitu gerakan yang dilakukan manusia atau disebut tingkahlaku atau amaliyah.  Motivasi dalam psikologi berarti ransangan, dorongan, atau pembangkit tenaga bagi terjadinya tingkah laku.
2.  Peran Motivasi
Motivasi memiliki beberapa peran dalam kehidupan manusia, setidaknya ada empat peran motivasi yaitu :
a.    Motivasi berfungsi sebagai pendorong manusia dalam berbuat sesuatu, sehingga menjadi unsur penting dari tingkah laku atau tindakan manusia.
b.    Motivasi berfungsi untuk menentukan arah dan tujuan.
c.    Motivasi berfungsi sebagai penyeleksi atas perbuatan yang akan dilakukan oleh manusia baik atau buruk, sehingga tindakkannya selektif.
d.   Motivasi berfungsi sebagai penguji sikap manusia dalam beramal, benar atau salah, sehingga bisa dilihat kebenaran atau kesalahan yang bersifat emosional dan subyektif.
Berbicara tentang agama memerlukan suatu sikap ekstra hati-hati, karena meskipun masalah agama merupakan masalah sosial, tetapi penghayatan- nya sangat bersifat individual. Apa yang dipahami dan apa yang dihayati sebagai agama oleh seseorang, sangat bergantung pada latar belakang dan kepribadiannya. Hal ini membuat adanya perbedaan tekanan penghayatan dari satu orang keorang lain, dan membuat agama menjadi bagian yang amat mendalam dari kepribadian atau privacy seseorang. Oleh karena itu, agama senantiasa bersangkutan dengan kepekaan emosional.[1]
3.    Jenis Motivasi
Jenis motivasi ada dua yaitu :
a.    Motivasi beragama yang rendah
1)   Karena didorong oleh keinginan untuk mendapat perasaan jah dan riya’
2)    Karena ingin mematuhi orang tua dan menjauhkan larangannya
3)    Karena demi gengsi atau prestise
4)   Karena didorong oleh keinginan untuk mendapatkan sesuatu atau seseorang
5)   Karena didorong oleh keinginan untuk melepaskan diri dari kewajiban agama.
b.    Motivasi beragama yang tinggi
1)   Karena didorong oleh keinginan untuk mendapatkan surga dan menyelamatkan diri dari azab neraka.
2)   Karena didorong oleh keinginan untuk beribadah dan mendekatkan diri kepada Allah.
3)   Karena didorong oleh keinginan untuk mendapatkan keridhaan Allah dalam hidupnya.
4)   Karena didorong oleh keinginan untuk mendapatkan kesejahteraan dan kebahagian hidup.
5)   Karena didorong oleh ingin hulul (mengambil tempat untuk menjadi satu dengan Tuhan).
6)   Karena didorong oleh kecintaan (mahabbah) kepada ALLAH SWT.
7)   Karena ingin mengetahui rahasia Tuhan dan perraturan Tuhan tentang segala yang ada (ma’rifah).
8)   Karena didorong oleh keinginan untuk al-ittihad (bersatu dengan Tuhan).
Berbicara mengenai motivasi, kita mengenal apa yang disebut dengan motivasi lebih tinggi, seperti kreativitas dan cinta kasih. Ada kalanya untuk sementara waktu kita “mengalihkan paandangan dari diri sendiri”, dimana kita merasa bahwa ada sesuatu yang lebih agung dibandingkan dengannya. Perasaan semacam ini juga menyertai kebiasaan tertentu. Dengan mencurahkan cinta kasih bagi orang lain tanpa pandang bulu, kita seolah-olah mengabaikan atau melupakan “diri” kita sendiri, tetapi memperoleh kebahagiaan atau wawasan spritual yang lebih tinggi sebagai gantinya. Kebanyakan agama dan filsafat menjadikan hal ini sebagai tujuan tertingginya.[2]
B.  Inteligensi Beragama
1. Pegertian Inteligensi
Inteligensi ( kecerdasan ) dalam bahasa ingris disebut intelligence dan bahasa arab disebut al-dzaka meenurut arti bahasa adalah pemahaman, kecepatan, dan kesempurnaan sesuatu.
Kecerdasan hanya berkaitan dengan kemampuan struktur akal ( intellect ) dalam menangkap gejala sesuatu, sehingga kecerdasan hanya bersentuhan dengan aspek-aspek kognitif ( al-majal al-ma’rifi)
2.    Macam-Macam Inteligensi
a.   kecerdasan intelektual adalah kecerdasan yang berhubungan dengan proses kognitif seperti berpikir, daya menghubungkan dan menilai atau mempertimbangkan sesuatu.
b.  Kecerdasan Emosional
1)   pengertian kecerdasan emosional merupakan istilah baru yang pertama kali ditemukan oleh salovey, namun istilah tersebut menjadi popular ditengah-tengah masyarakat. Kemudian dari istilah tersebut kecerdasan emosional untuk menggambarkan sejumlah kemampuan mengenali emosi diri sendiri.
2)   Aspek-Aspek Kecerdasan Emosional
    Ari Ginanjar mengemukakan aspek-aspek yang berhubungan dengan kecerdasan emosional dan spiritual, yaitu :
a)    Konsisten ( istiqamah )
b)   Kerendahan hati ( tawadhu’)
c)    Berusaha dan berserah diri ( tawakkal )
d)   Ketulusan ( ikhlas ) dan totalitas ( kaffah )
e)    Keseimbangan ( tawazun )
f)    Integritas dan penyempurnaan ( ihsan )
c.    Kecerdasan Moral
Kecerdasan moral ialah kemampuan untuk merenungkan mana yang benar dan mana yang salah, dengan menggunakan kecerdasan emosional dan intelektual pikiran manusia. Indikator kecerdasan moral adalah bagaimana seseorang memilikii pengetahuan tentang moral yang benar dan yang buruk.
Menurut Abdul Mujid kecerdasan moral tidak bisa dicapai dengan menghafal atau mengingat kaedah atau aturan yang dipelajari di dalam kelas, melainkan membutuhkan interaksi dengan lingkungan luar. Ketika seorang anak berinteraksi dengan lingkungan maka dapat diperhatikan bagaimana sikap yang diperankan, penuh batas kasih, adanya atensi, tidak sombong atau angkuh, egois atau mementingkan diri sendiri dan sejumlah sikap lainnya.[3]
d.   Kecerdasan Spritual
Kecerdasan spiritual bukanlah doktrin agama yang mengajak manusia untuk cerdas memilih salah satu agama, ia merupakan sebuah konsep yang berhubungan bagaimana seseorang mempunyai kecerdasan dalam mengelola makna-makna, nilai-nilai dan kualitas kehidupan spritualnya.
e.     Kecerdasan Qalbiah
Kecerdasan qalbiah adalah sejumlah kemampuan diri secara cepat dan seempurna, untuk mengenal kalbu dan aktivitas-aktivitasnya, mengelola dan mengekspresikan jenis-jenis kalbu secara benar, memotivasi kalbu untuk membina hubungan moralitas dengan orang lain, dan hubungan ubudiah dengan Tuhan.[4]
C.  Sikap Keagamaan
Sikap keagamaan merupakan suatu keadaan yang ada dalam diri seseorang yang mendorong sisi orang untuk bertingkah laku yang berkaitan dengan agama.  Sikap keagamaan terbentuk karena adanya konsistensi antara kepercayaan terhadap agama sebagai komponen kognitif perasaan terhadap agama sebagai komponen efektif dan prilaku terhadap agam sebagai komponen kognitif.
Kemudian bagaimana rasa keagamaan itu dapat mempengaruhi ketentraman batin seseorang. Berbagai konflik yang terjadi dalam diri seseorang hingga ia menjadi lebih taat menjalankan ajaran agamanya atau meninggalkan ajaran itu sama sekali.[5]
Menurut Siti Partini pembentukan dan perubahan sikap dipengaruhi oleh dua faktor yaitu :
1.    Faktor internal, berupa kemampuan menyeleksi dan mengolah atau menganalisis pengaruh yang datang dari luar, termasuk disini minat dan perhatian.
2.    Faktor eksternal, berupa faktor di luar dari individu yaitu pengaruh lingkungan yang diterima.
D.  Tingkah Laku Keagamaan
1.    Pegertian Tingkah Laku
Tingkah laku itu merupakan tanggapan atau rangkaian tanggapan yang dibuat sejumlah makhluk hidup. Dalam hal ini, tingkah laku itu walaupun harus mengikut sertakan tanggapan pada suatu organisine, termasuk yang ada diotak, bahasa, pemikiran, impian-impian, harapan- harapan, dan sebagainya, tetapi ia juga menyangkut mental sampai aktivitas fisik.
2.    Pengertian Tingkah Laku  Keagamaan
Tingkah laku keagamaan adalah segala aktivitas manusia dalam kehidupan didasarkan atas nilai-nilai agama yang diyakininya. Tingkah laku keagamaan tersebut merupakan perwujudan dan jiwa keagamaan berdasarkan kesadaran dan pengalaman beragama pada diri sendiri.
Tingkah laku keagamaan itu sendiri pada umumnya didorong oleh adanya suatu sikap keagamaan yang merupakan keadaan yang ada pada diri seseorang. Dengan sikap itulah akhirnya lahir tingkah laku keagamaan sesuai dengan kadar ketaatan seseorang terhadap agama yang diyakininya
3.    Motivasi Yang Melahirkan Tingkah Laku Keagamaan
Penyebab tingkah laku keagamaan manusia itu merupakan campuran antara berbagai faktor, baik faktor lingkugan, biologi, psikologi rohaniah, unsur fungsional, unsur asli dan fitrah atau karunia Tuhan. Karena itu studi yang mampu membahas masalah empiris, non empiris dan rohaniah adalah agama.
 Menurut Nico Syukur Dister terdapat empat hal yang menyebabkan seorang memunculkan tingkah laku keagamaan, yaitu :
a.    untuk mengatasi frustasi
b.    untuk menjaga kesusilaan serta tata tertip masyarakat
c.    untuk memuaskan intelek yang ingin tahu
d.   untuk mengatasi ketakutan
E.  Ketaatan Beragama
Ketaatan beragama membawa dampak positf terhadap kesehatan mental karena pengalaman membuktikan bahwa seseorang yang taat beragama ia selalu mengingat Allah SWT. Karena banyaknya seseorang mengingat Allah SWT, jiwa akan semakin tentram.
Untuk lebih jelasnya dapat diperincikan sebagai berikut :
1.    Faktor psikologis yaitu kepribadian dan kondisi mental.
2.    Faktor umum yaitu anak-anak, remaja, dewasa dan tua.
3.    Faktor kelamin yaitu laki-laki dan wanita.
4.     Faktor pendidikan yaitu orang awam, pendidikan menengah dan intelektual.
5.    Faktor stratifikasi social yaitu petani, buruh, karyawan, pandangan dan sebagainya.[6]

F.   Kesimpulan
Dapat disimpulkan bahwa perkembangan jiwa keagamaan  dipengaruhi oleh  berbagai aspek psikologis yang  secara tidak langsung menyatakan bahwa antara agama dan psikologi saling mempengaruhi, yakni diantaranya dalam hal motivasi beragama, intelegensi (kecerdasan) beragama, sikap beragama, tingkah laku beragama, dan ketaatan beragama.
Motivasi memiliki beberapa peran dalam kehidupan untuk menjalankan aktivitas keagamaan, ada empat motivasi yang berperan dalam kehidupan manusia. Motivasi berfungsi sebagai pendorong manusia dalam berbuat sesuatu, penyeleksi atas perbuatan, menentukan arah dan tujuan, penguji manusia dalam beramal.
 Intelegensi berarti kapasitas umum dari seorang individu yang dapat dilihat padakesanggupan pikirannya dalam mengatasi tuntutan kebutuhan-kebutuhan baru, keadaan rohaniah secara umum yang dapat disesuaikan dengan problem-problem dan kondisi-kondisi yang baru didalam kehidupan.
Didalam sikap keagamaan antara komponen kognitif, efektif dan kognatif saling berintegrasi sesamanya secara kompleks. Sikap keagamaan bukan merupakan bawaan akan tetapi dalam pembentukan dan perubahannya ditentukan oleh faktor internal dan eksternal.
Tingkah laku keagamaan itu itu sendiri pada umumnya didorong oleh adanya suatu sikap keagamaan yang merupakan keadaaan yang ada pada diri seseorang. Sedangkan  Ketaatan beragama membawa dampak positf terhadap kesehatan mental karena pengalaman membuktikan bahwa seseorang yang taat beragama ia selalu mengingat ALLAH SWT.



DAFTAR PUSTAKA
Dadang Kahmad. 2009. Sosiologi Agama. Bandung:  Pt Remaja Rosdakarya
George Boeree.2008.  Psikologi Sosial. Jogjakarta:  Prismasophie
Jalaludin. 2010. Psikologi Agama. Jakarta: Pt Rajagrafindo Persada
Ramayulis. 2007. Psikologi Agama, Jakarta: Kalam Mulia

















[1] Dadang Kahmad, Sosiologi Agama, (Bandung:  Pt Remaja Rosdakarya, 2009), Hal 161.
[2] George Boeree, Psikologi Sosial, (Jogjakarta:  Prismasophie, 2008), Hal 30
[5] Jalaludin, Psikologi Agama, (Jakarta: Pt Rajagrafindo Persada, 2010), Hal 17
[6] Ramayulis, Psikologi Agama, (Jakarta: Kalam Mulia, 2007), Hal: 102