Blue Wings - Working In Background

"Sambas"

Powered By Blogger

GOOGLE FEED BURNER

Enter your email address:

Delivered by FeedBurner

BERDIRI DI UJUNG NEGERI

PERBATASAN INDONESIA-MALAYSIA, TEMAJUK, SAMBAS.

TUGU GARUDA PERBATASAN

TEMAJUK, SAMBAS.

TANJUNG DATOE INDONESIA

INDAHNYA INDONESIA KU, TEMAJUK, SAMBAS.

PERBATASAN INDONESIA-MALAYSIA

BERDIRI DI BATAS NEGERI, TEMAJUK, SAMBAS.

TUGU KETUPAT BERDARAH

SAKSI BISU PERTUMPAHAN DARAH 1999, JAWAI, SAMBAS

Thursday, 17 November 2016

CAN RELIGIOUS TEXTS BE TRANSLATED


These transformations from part of a much longer history of translation within Christianity that has spurred extensive controversy. Can sacred texts be translated? Can a divine language be translated into a human one? Does translation assist or impede the spread of religious?
This debate has produced a continuum of positions stretching from an insistence that the divine cannot be translated to an equally enthusiastic assertion that it can. The first position is associated with Islam wherein Arabic, the language in which an angel dictated the Koran, is deemed to be the most superior version in which to encounter the sacred text. Translations are not disallowed but are seen as lesser than the Arabic. The position of the Catholic Church (until 1962), which held that the Bible was best read in Latin, represents a not dissimilar position.
By contrast, Protestants, particularly those of an evangelical stripe, have been ardent translators (Sanneh 1991). These evangelical versions of translation generally go hand in hand with the idea of translation as revelation. In this view, translation becomes possible as God will ensure that his meaning infuses the new version. A second Protestant view is more modest and holds that translation is a human activity prone to error and dependent on human decisions and interpretations (Engelke 2007: 22-3).
Questions of translation enrich the methodological field of religious textual inquiry. One focus is obviously on the source and the target text to see what orders of understanding the linguistic and the stylistic choices of the translation do or do not enable. Outside the text, we need to ask how translation is actually done and what ideas about translation the participants hold. Finally as translation studies indicate, we need to consider broader political questions to ask how ideas of equivalence or non-equivalence come into being. Whether texts are seen as faithful renditions of one another depends not only on the quality of the translation but on a broader political willingness to believe in the commensurability of people, ideas, and cultures (Liu 1999).

To see how these issue worked in practice, we turn to the translation of John Bunyan’s The Pilgrim’s Progress, a key of evangelical Protestantism often considered a second Bible by Nonconformists and widely translated by missionaries drawn from their ranks.

KLONING MENURUT PANDANGAN ISLAM


Agama tidak mungkin mengharamkan atau melarang ditemukannya satu teori ilmiah baru yang dapat mengantar kepada pengungkapan rahasia dari sekian banyak rahasia kehidupan, manusia, dan alam raya. Sebaliknya pun demikian. Karena, agama mengundang manusia untuk berpikir, mengamati, menganalisis, dan mengambil kesimpulan. Ulama lain memberi pembatasan. Dalam buku Al-Islam wal-’Aql, mantan pemimpin tertinggi Al-Azhar Mesir Sheikh Abdul Halim Mahmud, mengatakan: ”Benar Islam mendukung penelitian dan pengembangan ilmu, tetapi pengembangan yang memiliki tujuan yang jelas berkaitan dengan kemaslahatan manusia”.
Menurut syara’ hukum Kloning pada tumbuhan dan hewan tidak apa-apa untuk dilakukan dan termasuk aktivitas yang mubah hukumnya. Dari hal itu memanfaatkan tanaman dan hewan dalam proses Kloning guna mencari obat yang dapat menyembuhkan berbagai penyakit manusia, terutama yang kronis adalah kegiatan yang dibolehkan Islam, bahkan hukumnya sunnah (mandub), sebab berobat hukumnya sunnah. Begitu pula mempro­duksi berbagai obat-obatan untuk kepentingan pengobatan hukumnya juga sunnah. Imam Ahmad telah meriwayatkan hadits dari Anas RA yang telah berkata, bahwa Rasulullah SAW berka­ta:
“Sesungguhnya Allah Azza Wa Jalla setiap kali menciptakan penyakit, Dia menciptakan pula obatnya. Maka berobatlah kalian !”
Imam Abu Dawud dan Ibnu Majah meriwayatkan dari Usamah bin Syuraik RA, yang berkata:
”Aku pernah bersama Nabi, lalu datanglah orang-orang Arab Badui. Mereka berkata,’Wahai Rasulullah, bolehkah kami berobat ?”


Maka Nabi SAW menjawab :
“Ya. Hai hamba-hamba Allah, berobatlah kalian, sebab sesung­guhnya Allah Azza wa Jalla tidaklah menciptakan penyakit kecuali menciptakan pula obat baginya…”
Oleh karena itu, dibolehkan memanfaatkan proses Kloning untuk memperbaiki kualitas tanaman dan mempertinggi produk­tivitasnya atau untuk memperbaiki kualitas hewan seperti sapi, domba, onta, kuda, dan sebagainya. Juga dibolehkan memanfaatkan proses Kloning untuk  mempertinggi produktivi­tas hewan-hewan tersebut dan mengembangbiakannya, ataupun untuk mencari obat bagi berbagai penyakit manusia, terutama penyakit-penyakit yang kronis. Demikianlah hukum syara’ untuk Kloning manusia, tanaman dan hewan.[1]
Kloning pada manusia haram menurut hukum Islam dan tidak boleh dilakukan. Dalil-dalil keharamannya adalah sebagai berikut :
  1. Anak-anak produk proses Kloning tersebut dihasilkan melalui cara yang tidak alami. Padahal justru cara alami itulah yang telah ditetapkan oleh Allah untuk manusia dan dijadikan-Nya sebagai sunnatullah untuk menghasilkan anak-anak dan keturunan. Allah SWT berfirman :
وَأَنَّهُ خَلَقَ الزَّوْجَيْنِ الذَّكَرَ وَالْاُنْثَى مِنْ نُطْفَطٍ إِذَا تُمْنَى
“dan Bahwasanya Dialah yang menciptakan berpasang-pasangan laki-laki dan perempuan, dari air mani apabila dipancarkan.” (QS. An Najm : 45-46)
 Allah SWT berfirman :
“Bukankah dia dahulu setetes mani yang ditumpahkan (ke dalam rahim), kemudian mani itu menjadi segumpal darah, lalu Allah menciptakannya, dan menyempurnakannya.” (QS. Al Qiyaamah : 37-38)
  1. Anak-anak produk Kloning dari perempuan saja (tanpa adanya laki-laki), tidak akan mempunyai ayah. Dan anak produk Kloning tersebut jika dihasilkan dari proses peminda­han sel telur-yang telah digabungkan dengan inti sel tubuh-ke dalam rahim perempuan yang bukan pemilik sel telur, tidak pula akan mempunyai ibu. Sebab rahim perempuan yang menjadi tempat pemindahan sel telur tersebut hanya menjadi penampung, tidak lebih. Ini merupakan tindakan menyia-nyiakan manusia, sebab dalam kondisi ini tidak terda­pat ibu dan ayah. Hal ini bertentangan dengan firman Allah SWT :
يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَاُنْثَى
“Hai manusia, sesunguhnya Kami menciptakan kalian dari seorang laki-laki dan seorang perempuan.” (QS. Al Hujuraat : 13)
  1. Kloning manusia akan menghilang nasab (garis keturunan). Padahal Islam telah mewajibkan pemeliharaan nasab. Diriway­atkan dari Ibnu ‘Abbas RA, yang mengatakan bahwa Rasulullah SAW telah bersabda :
“Siapa saja yang menghubungkan nasab kepada orang yang bukan ayahnya, atau (seorang budak) bertuan (loyal/taat) kepada selain tuannya, maka dia akan mendapat laknat dari Allah, para malaikat, dan seluruh manusia.” (HR. Ibnu Majah)
Berdasarkan dalil-dalil itulah proses Kloning manusia diharamkan menurut hukum Islam dan tidak boleh dilaksanakan.[2]



[1] Farid Ma’ruf, Hukum Kloning (http:// konsultasi. Wordpress.com. 2007)
[2] Abdul Qadim Zallum terjemah Sigit Purnawan Jati, S.Si.,Hukmu Asy Syar’i fi Al Istinsakh, Naqlul A’dlaa’, Al Ijhadl, Athfaalul Anabib, Ajhizatul In’asy Ath Thibbiyah, Al Hayah wal Maut ( Darul Ummah: Beirut, Libanon, Cetakan. 1997)  hal. 48

BANK SPERMA MENURUT PANDANGAN ISLAM



    A.  Pengertian Bank Sperma
Bank Sperma adalah pengambilan sperma dari donor sperma lalu dibekukan dan di simpan ke dalam larutan nitrogen cair untuk mempertahankan fertilisasi sperma. Dalam bahasa medis Bank Sperma disebut cryobanking. Cryobanking adalah suatu teknik penyimpanan sel cryo preserved untuk digunakan di kemudian hari. Dengan adanya cryobanking ini, sperma dapat di simpan dalam jangka waktu yang lama bahkan lebih dari enam bulan. Kualitas sperma yang telah disimpan dalam bank sperma sama juga dengan sperma yang baru, sehingga memungkinkan untuk proses ovulasi.
 Hal ini dapat dilakukan pada suhu yang relatif rendah. Teknik yang paling sering digunakan dan terbukti berhasil saat ini adalah metode Controlled Rate Freezing, dengan menggunakan gliserol dan egg yolk sebagai cryoprotectant untuk mempertahankan integritas membran sel selama proses pendinginan dan pencairan. Teknik cryobanking terhadap sperma manusia telah memungkinkan adanya keberadaan donor semen, terutama untuk pasangan-pasangan infertil. Tentu saja, semen-semen yang akan didonorkan perlu menjalani serangkaian pemeriksaan, baik dari segi kualitas sperma maupun dari segi pendonor seperti adanya kelainan-kelainan genetik.
Jadi bank sperma adalah tempat penyimpanan sperma yang dilakukan untuk ketentuan dan tujuan masing-masing, baik untuk pribadi maupun untuk orang lain.
B.   Sejarah Bank Sperma
Bank sperma sebenarnya telah berdiri beberapa tahun yang lalu, pada tahun 1980 di Escondido California yang didirikan oleh Robert Graham, si kakek berumur 73 tahun, juga di Eropah, dan di Guangdong Selatan China, yang merupakan satu di antara lima bank sperma besar di China.
Sementara itu, bank pusat sel embrio di Shanghai, bank besar lain dari lima bank besar di China, meluncurkan layanan baru yang mendorong kaum lelaki untuk menabung spermanya, demikian laporan kantor berita Xinhua. Bank tersebut menawarkan layanan penyimpanan sperma bagi kaum lelaki muda yang tidak berencana untuk punya keturunan, namun mereka takut kalau nanti mereka tidak akan menghasilkan semen yang cukup secara jumlah dan kualitas, ketika mereka berencana untuk memiliki keluarga.
C.  Latar Belakang dan Tujuan Munculnya Bank Sperma
Latar belakang munculnya bank sperma adalah sebagai berikut:
1.    Keinginan untuk menolong pasangan suami istri yang tidak mempunyai anak untuk memperoleh keturunan.
2.    Memperoleh generasi yang jenius atau orang super.
3.    Menghindari kepunahan manusia.
4.    Memilih suatu jenis kelamin
5.    Mengembangkan kemajuan teknologi terutama dalam bidang kedokteran.
Menurut Werner (2008), Beberapa alasan seseorang akhirnya memutuskan untuk menyimpan spermanya pada cryobanking, antara lain: 
1.    Seseorang akan menjalani beberapa pengobatan terus menerus yang dapat mengurangi produksi dan kualitas sperma. Contoh obat tersebut adalah sulfasalazine, methotrexate. 
2.    Seseorang memiliki kondisi medis yang dapat mempengaruhi kemampuan orang tersebut untuk ejakulasi (misal: sklerosis multipel, diabetes). 
3.    Seseorang akan menjalani perawatan penyakit kanker yang mungkin akan mengurangi atau merusak produksi dan kualitas sperma (misal: kemoterapi, radiasi). 
4.    Seseorang akan memasuki daerah kerja yang berbahaya yang memungkinkan orang tersebut terpapar racun reproduktif. 
5.    Seseorang akan menjalani beberapa prosedur yang dapat mempengaruhi kondisi testis, prostat, atau kemampuan ejakulasinya (misal: operasi usus besar, pembedahan nodus limpha, operasi prostat). 
6.    Seseorang akan menjalani vasektomi. 
Adapun tujuan diadakan bank sperma adalah semata-mata untuk membantu pasangan suami isteri yang sulit memperoleh keturunan dan menghindarkan dari kepunahan sama halnya dengan latar belakang munculnya bank sperma seperti yang telah dijelaskan diatas. Tentang proses pelaksanaan sperma yang akan di ambil atau di beli dari bank sperma untuk dimasukkan ke dalam alat kelamin perempuan (ovum) agar bisa hamil disebut dengan inseminasi buatan yaitu suatu cara atau teknik memperoleh kehamilan tanpa melalui persetubuhan.
D.  Hubungan Bank Sperma dan Perkawinan
Perkawinan di dalam Islam merupakan suatu institusi yang mulia. Ia adalah ikatan yang menghubungkan seorang lelaki dengan seorang perempuan sebagai suami isteri. Hasil dari akad yang berlaku, kedua suami dan isteri mempunyai hubungan yang sah dan kemaluan keduanya adalah halal untuk satu sama lain. Sebab itulah akad perkawinan ini dikatakan sebagai satu akad untuk menghalalkan persetubuhan di antara seorang lelaki dengan wanita, yang sebelumnya diharamkan.
Namun, hubungan perkawinan dalam wujud ini bukanlah semata-mata untuk mendapatkan kepuasan seks, tetapi merupakan satu kedudukan untuk melestarikan keturunan manusia secara sah atau sebagai wahana. Karena itulah kehadiran anak merupakan hal yang didambakan oleh orang tua sebagai generasi penerus dari keluarganya. Dalam Islam perkawinan merupakan hal yang penting, mengingat dari perkawinan ini akan menentukan hukum yang lain yang muncul dari sebab nasab, seperti perwalian, warits dan lain-lain.
Namun demikian tidak semua pasangan memiliki kemudahan dalam mendapat keturunan, tetapi ada sebagian mereka yang sulit mendapat keturunan yang disebabkan oleh kurangnya kesuburan, mengidap suatu penyakit atau alasan lain. Maka muncullah gagasan mendirikan bank sperma. Kehadiran bank sperma merupakan peluang bagi pasangan yang sulit untuk mendapatkan keturunan untuk memiliki keturunan melalui jalan lain, yaitu membeli sperma dan diinseminasikan ke dalam rahim isteri. Hal itu bisa dilakukan dengan mudah di zaman yang sudah maju seperti sekarang ini.
E.   Hukum Bank Sperma dan Pendapat Para Ulama
Berdasarkan pengalaman yang kita ketahui bank itu adalah tempat menyimpan uang. Tetapi berbeda dengan hal ini, karena di sini yang dikumpulkan bukanlah uang tapi sperma dari para pendonor. Persoalan dalam hukum Islam adalah bagaimana hukum tersebut kaitannya dengan pelaksanaan pengumpulan sperma di bank sperma? Secara umum Islam memandang bahwa melakukan onani merupakan perbuatan yang sangat tidak etis.
Sayyid Sabig mengatakan bahwa malikiyah, syafi’iyah, dan zaidiyah mengharamkan perbuatan onani dengan alasan bahwa ALLAH SWT. Memerintahkan menjaga kemaluan dalam segala keadaan kecuali kepada istri dan budak yang dimilikinya.
Hanabilah berpendapat bahwa onani memang haram tetapi kalau karena takut zina, maka hukumnya wajib.
“Mengambil yang lebih ringan dari suatu kemudharatan adalah wajib.”
Menurut Al-Imam Taqiyudin Abi Bakar Ibnu Muhammad Al-Husainy, mengemukakan bahwa onani itu adalah boleh karena yang dilakukan suami atau istri itu memang tempat kesenangannya. “Seorang laki-laki dibolehkan mencari kenikmatan melalui tangan istri atau hamba sahayanya karena di sanalah salah satu tempat kesenangannya.”
Dewan Pimpinan Majelis Ulama Indonesia, Memutuskan :
1.    Bayi tabung dengan sperma calon ovum dari pasangan suami-istri yang sah hukumnya mubah. Sebab hak itu termasuk ikhtiar berdasarkan kaidah-kaidah agama.
2.    Bayi tabung dari pasangan suami-istri dengan titipan rahim istri yang lain (dari istri kedua dititipkan kepada istri pertama) hukumnya haram. Karena akan menimbulkan masalah rumit dalam kaitannya dengan warisan.
3.    Bayi tabung dari sperma yang dibekukan dari suami yang telah meninggal hukumnya haram. Berdasarkan kaidah sadd az-zari’ah sebab akan menimbulkan masalah dalam hal warisan.
4.    Bayi tabung yang sperma dan ovumnya diambil dari selain pasangan suami-istri yang sah hukumnya haram. Karena statusnya sama saja dengan hubungan di luar nikah (zina).
Dewan Pimpinan Majelis Ulama Indonesia menyimpulkan selama mana Bank Sperma tersebut hukum syara’ dari segi operasinya maka hukumnya boleh dan tidak diharamkan.  





CARA MENGGUNAKAN KOMPAS


A.  Pengertian Kompas
Kompas adalah alat navigasi untuk mencari arah berupa sebuah panah penunjuk magnetis yang bebas menyelaraskan dirinya dengan medan magnet bumi secara akurat. Kompas memberikan rujukan arah tertentu, sehingga sangat membantu dalam bidang navigasi. Arah mata angin yang ditunjuknya adalah Utara,Selatan,Timur dan Barat .Apabila digunakan bersama-sama dengan jarum, maka kompas akan lebih akurat dalam menunjukkan arah. Alat ini membantu perkembangan perdagangan maritim dengan membuat perjalanan jauh lebih aman dan efisien dibandingkan saat manusia masih berpedoman pada kedudukan bintang untuk menentukan arah.
Kompas adalah alat bantu untuk menentukan arah mata angin. Bagian-bagian kompas yang penting antara lain:
1.    Dial, yaitu permukaan di mana tertera angka dan huruf seperti pada permukaan jam.
2.    Visir, yaitu pembidik sasaran
3.    Kaca Pembesar, untuk pembacaan pada angka
4.    Jarum penunjuk
5.    Tutup dial dengan dua garis bersudut 450
6.    Alat penggantung, dapat juga digunakan sebagai penyangkut ibu jari untuk menopang kompas pada saat membidik.

B.  Angka-Angka Yang Ada Di Kompas dan Istilahnya

                North                       =              Utara                        =              00
                North East               =              Timur Laut               =              450
                East                         =              Timur                        =              900
                South East               =              Tenggara                   =              1350
                South                       =              Selatan                      =              1800
                South West              =              Barat Daya                =              2250
                West                        =              Barat                          =              2700
                North West              =              Barat Laut                 =              3250

C.  Cara Menggunakan Kompas
1.    Letakkan kompas anda di atas permukaan yang datar. Setelah jarum kompas tidak bergerak lagi, maka jarum tersebut menunjuk ke arah utara magnet.
2.    Bidik sasaran melalui visir dengan kaca pembesar. Miringkan sedikit letak kaca pembesar, kira-kira 500  di mana   berfungsi untuk membidik ke arah visir dan mengintai angka pada dial.
3.    Apabila visir diragukan karena kurang jelas dilihat dari kaca pembesar, luruskan saja garis yang terdapat pada tutup dial ke arah visir, searah dengan sasaran bidik agar mudah dilihat melalui kaca pembesar


Wednesday, 16 November 2016

TEORI KOMUNIKASI ORGANISASI


1.      Teori Organisasi Klasik
Konsep tentang organisasi telah berkembang mulai 1880-an dan dikenal sebagai teori klasik (classical theory). Dampak teori ini terhadap organisasi masih sangat besar. Sebagai contoh organissi yg didasarkan birokrasi dan banyak bagian dari teori klasik Menurut teori organisasi klasik, rasionalitas, efisiensi, dan keuntungan ekonomis merupakan tujuan organisasi. Teori ini juga menyatakan bahwa manusia diasumsikan bertindak rasional sehingga secara rasional dengan menaikkan upah, produktivitas akan meningkat.
2.      Teori Tradisional (Teori Peralihan)
Teori tradisional muncul sebagai reaksi atas konsep-konsep yang dikemukakan oleh para ahli teori klasik meskipun tidak sepenuhnya mengabaikan prinsip-prinsip yang dikemukakan oleh teori klasik. Pendekatan yang dilakukan oleh ahli teori ini adalah pendekatan perilaku atau bahavioral approach (human relation approach). Pendekatan ini dilakukan dengan mengadakan eksperimen yang dikenal dengan Hawthorne Experiment yang secara garis besar dibagi dalam 4 tahap.
a)      Mengkaji efek lingkungan dari produktivitas pekerja
b)      Melakukan konsultasi dengan pekerja yang ikut eksperimen
c)      Melakukan wawancara dengan pekerja (yang tidak ikut eksperimen) melalui pertanyaan terbuka
d)     Eksperimen yang dikenal dengan bank - wiring - room experiment.
3.      Teori Mutakhir
Teori mutakhir atau modern merupakan pengembangan aliran hubungan manusiawi sekaligus sebagai pandangan baru tentang perilaku manusia dan sistem sosial. Dalam teori ini konsep manusia yang mewujudkan diri (motivasi manusia) sangat penting bagi manajemen organisasi.
4.      Teori Perilaku
Teori perilaku atau the behavior theory of organitation, berpendapat bahwa ada tidaknya, baik buruknya, suatu organisasi itu tergantung dari sikap kelakuan para anggotanya. Salah seorang penganut teori ini yang terkenal adalah Herbert A. Simon dalam bukunya ‘’Administrative Behaviour”.
Namun, sejak Barnard mempublikasikan “the function of the executive”, pikiran-pikiran baru muncul. Ia menyatakan bahwa organisasi adalah system orang, bukan struktur yang direkayasa secara mekanis.
5.      Teori Fusi  (Bakke & Argyris)
Banyaknya masalah dalam memuaskan minat manusia yang berlainan & dalam konteks memenuhi tuntutan penting struktur birokrasi, Bakke menyarankan suatu proses fusi. Pendapatnya bahwa organisasi, hingga suatu tahap tertentu, mempengaruhi individu, sementara pada saat yang sama individu pun mempengaruhi organisasi.
Argyris, seorang rekan bakke di Universitas Yale, menyempurnakan karya Bakke. Ia berpendapat bahwa ada suatu ketidaksesuaian yang mendasar antara kebutuhan pegawai yang matang dengan persyaratan formal organisasi. Organisasi mempunyai tujuan yang berlawanan dengan tujuan pegawai perseorangan. Para pegawai frustasi sebagai akibat dari ketidaksesuaian tersebut; sebagian pegawai mungkin meninggalkan tempat kerja mereka, menjadi apatis & acuh-tak-acuh. Melalui konflik ini para pegawai lainnya menyadari untuk tidak mengharapkan kepuasan dari pekerjaan mereka.
6.      Teori Peniti Penyambung (Likert)
Rensis Likert dari Universitas Michigan berjasa mengembangkan suatu model terkenal dengan sebutan model peniti penyambung (the linking pin model) yang menggambarkan struktur organisasi. Konsep peniti penyambung berkaitan dengan kelompok-kelompok yang tumpang tindih. Penyelia merupakan anggota dari 2 kelompok ; sebagai pemimpin unit yang lebih rendah dan anggota unit yang lebih tinggi. Penyelia berfungsi sebagai peniti penyambung, mengikat kelompok kerja yang satu dengan yang lainnya pada tingkat berikutnya.
Luthans berpendapat bahwa konsep peniti penyambung cenderung menekankan & memudahkan apa yang seharusnya terjadi dalam struktur klasik yang birokratik. Tetapi pola hierarkis atasan bawahan, sering mendorong komunikasi ke bawah, namun menghambat komunikasi ke atas dan ke samping.
7.      Teori Hubungan Manusiawi (Elton Mayo)
Hubungan manusia sangat penting dalam menopang suatu perusahaan dalam jangka panjang. Hubungan manusia bisa diinterprestasikan dalam bermacam-macam cara. Sebagian organisasi dan orang-orang melihat hubungan manusia dari sudut pandang yang berbeda secara keseluruhan.
Teori hubungan manusia ini menekankan pada pentingnya individu dan hubungan sosial dalam kehidupan organisasi. Teori ini menyarankan strategi peningkatan dan penyempurnaan organisasi dengan meningkatkan kepuasan anggota organisasi dan menciptakan organisasi yang dapat membantu individu mengembangkan potensinya. Dengan meningkatkan kepuasan kerja dan mengarahkan aktualisasi diri pekerja, akan mempertinggi motivasi bekerja sehingga akan dapat meningkatkan produksi organisasi.
8.      Teori Sistem
Teori sistem memandang organisasi sebagai kaitan bermacam-macam komponen yang saling tergantung satu sama lain dalam mencapai tujuan organisasi. Setiap bagian mempunyai peranan masing-masing dan berhubungan dengan bagian-bagian lain dan karena itu koordinasi penting dalam teori ini. Teori sistem adalah seperangkat prinsip yang terorganisasikan secara longgar dan sangat abstrak, yang berfungsi mengarahkan pikiran kita namun terikat pada berbagai penafsiran. Interdependensi menunjukkan bahwa terdapat kesaling bergantungan di antara komponen-komponen / satuan-satuan suatu sistem. Suatu perubahan pada suatu komponen membawa perubahan pada setiap komponen lainnya. Teori sistem memberikan suatu model deskripsi yang sangat kuat mengenai proses organisasi. Teori ini mempunyai banyak implikasi dan telah digunakan untuk mendeskripsikan fenomena organisasi dalam konteksnya sendiri.
Teori sistem menangani hakikat saling hubungan yang kompleks dari organisasi manusia dan menguraikan bagaimana organisasi bertumbuh dan berkembang. Tipe komunikasi yang dominan dalam organisasi yang menggunakan teori ini adalah komunikasi horizontal, baik dalam lingkungan organisasi maupun antara organisasi dengan organisasi lainnya.
9.      Teori Pergantungan Sumber
Teori ini  (Resource Dependency Theory) diutarakan Aldrich Teori ini lebih memperlihatkan bagaimana organisasi menjalin perhubungan antara organisasi demi kehidupan organisasi (survival) itu. Penglibatan persekitaran adalah penting karena organisasi berinteraksi dengannya demi keberkesanan terutama sekali bagi organisasi yang menyediakan perkhidmatan sosial.
Ringkasnya teori pergantungan sumber menerangkan pembentukan kuasa antara organisasi, kuasa yang didapati daripada pergantungan organisasi lain kepada sumber yang didapati daripada pergantungan organisasi lain kepada sumber yang dimiliki oleh satu-satu organisasi. Jika sekiranya, alternatif sumber tersedia, jadi kuasa pergantungan sumber kekurangan. Mahu ataupun tidak, organisasi mesti melibatkan diri dalam perhubungan antar organisasi.
10.  Teori Kontingensi
Teori ini (Contingency Theory) hasil gabungan idea Lawrence dan Lorch dan Galbraith. Ringkasan teori ini mengatakan tidak ada cara yang paling baik untuk mengurus organisasi. Apa saja yang bersesuaian dengan keadaan adalah baik, dan cara untuk mengurus bergantung kepada keadaah disekitar.[1]



[1] Saodah Wok, Narimah Ismail, dan M. Yusof Hussain, Teori-Teori Komunikasi, (Kuala Lumpur: PTS Professional Publishing, 2006), hlm. 93-94.

HAMBATAN-HANBATAN DALAM KOMUNIKASI ORGANISASI


Komunikasi dalam berorganisasi tidak selamanya berjalan dengan mulus seperti yang di harapkan. Seringkali dalam komunikasi terjadi kesalahphaman antara satu anggota dengan anggota lain. Robbins meringkas beberapa hambatan komunikasi sebagai berikut:
1.      Penyaringan (Filtering)
Hambatan ini merupakan komunikasi yang dimanipulasikan oleh si pengirim sehingga namapak bersifat  menyenagkan penerima.
2.      Presepsi Selektif
 Hamabatan ini merupakan keadaan dimana penerima pesan didalam proses komunikasi melihat dan mendengar atas dasar keperluan, motivasi, latar brlakang pengalaman, dan ciri ciri pribadi lainnya.
3.      Perasaan
Hambatan ini merupakan bagaimana perasaaan peenerima pada saat dia menerima pesan komunikasi akan mempengaruhi cara dia menginterpretasikan pesan.
4.      Bahasa
Kata-kata memiliki makna yang berbeda antara seseorang dengan orang lain. kadang kadang arti dari sebuah kata tidak berada pada kata itu sendiri tetapi pada kita. 
5.      Hambatan Struktur
Hambatan ini bisa disebut hambatan organisasi. yaitu hambatan yang disebabkan oleh adanya perbedaan tingkat, perbedaan job dalam struktur organisasi.
6.      Hambatan Jarak
Hambatai ini bisa disebut hambatan geografis, dair segi jarak atau geografis komunikasi akan lebih mudah berlangsung apabila antara kedua belah pihak yang saling mengadakan interkasi itu berada di suatu tempat yang tidak berjauhan
7.      Hambatan Latar Belakang
Setiap orang mempunyai latar belakang yang berbeda, perbedaan latar belakang dapat menimbulkan, suatu GAP atau hambatan dalam proses komunikasi.[1]



[1] Stephen P. Robbin dan Timothy A. Judge, Perilaku Organisasi: Organizational Behavior, Penerjemah: Diana Angelica, Ria Cahyani, dan Abdul Rosyid, (Jakarta: Selemba Empat, 2008), 27-29.